Perkembangan Psikososial Anak: DOs & DON’Ts (copaste dari RFC)

Teori perkembangan psikososial diajukan oleh Erik H. Erikson, salah seorang pelopor psikologi perkembangan. Ini memang teori ‘tua’, tapi dari berbagai kasus yang saya tangani, relevansinya masih cukup tinggi. Dalam setiap tahap perkembangan anak (kita batasi hingga usia 18 tahun), ada kejadian-kejadian penting yang perlu kita sikapi sesuai dengan dinamikanya masing-masing. Sebagai orang tua, hendaknya kita meminimalisasi kemungkinan ‘salah langkah’. Berikut adalah tahap-tahap perkembangan psikososial beserta panduan hal-hal yang dapat kita lakukan untuk mengoptimalkannya (DOs) dan yang perlu dihindari (DON’Ts).

Trust vs Mistrust (0-18 bulan)
Anak belajar mengenali orang-orang di sekitarnya dan mulai membangun kelekatan. Dalam periode ini, pengalaman proses feeding menjadi sangat penting.
DO: Bersikap responsif, menunjukkan penerimaan yg tulus, dan konsisten membangun kedekatan. >> Membantu anak utk mempunyai kepercayaan trhadap orang lain
DON’T: Inkonsistensi dan penolakan oleh orang tua/pengasuh. >> Menimbulkan rasa ‘insecure’ (merasa tidak aman) pada anak, anak jadi cemas, sulit adaptasi, dan sangat rewel

Autonomy vs Shame (18-36 bulan)
Anak belajar mandiri karena kontrol atas aktivitas tubuhnya telah ia kuasai (sudah bisa berjalan, lari, bicara, dsb.). Toilet training menjadi titik kritis fase ini.
DO: Mendukung kemandirian dan awasi aktivitasnya agar anak pun tetap merasa didampingi. Apresiasi pilihan-pilihannya. >> Membentuk kepercayaan diri
DON’T: Bersikap overprotektif dan banyak melarang. >> Anak menjadi peragu, self-limiting (membatasi diri), dan tidak percaya diri

Initiative vs Guilt (3-6 tahun)
Anak belajar ‘mengatur’, meng-organize, dan memegang kendali atas hal-hal di sekitarnya. Ini adalah masa-masa eksplorasi bagi anak.
DO: Mendukung kemandirian anak untuk membuat keputusan, menentukan pilihan, mengajukan ide/pendapat, dan mengambil tindakan untuk mengatasi masalahnya sendiri. >> Memupuk asertivitas dan kepemimpinan
DON’T: Membatasi pilihan-pilihan anak, atau sebaliknya, terlalu memaksa anak untuk mengekspresikan sesuatu atau mengambi tindakan yang diluar kehendaknya, terlalu banyak mengkritik. >> Menumbuhkan sifat mudah merasa bersalah, peragu, dan kurang berinisiatif

Industry vs Inferiority (6-12 tahun)
Anak belajar membangun kebanggaan atas dirinya sendiri. Pengalaman bersekolah akan mengisi sebagian besar waktunya.
DO: Mengapresiasi pencapaian anak dan mendorong anak untuk belajar hal-hal baru. >> Memupuk keyakinan diri, terutama keyakinan untuk berprestasi, karena ia merasa mampu dan kompeten.
DON’T: Banyak mengkritik, banyak membandingkan anak dengan anak lainnya, kurang me-reward ataupun memberi pengakuan atas pencapaian anak. >> Membuat anak merasa ‘kurang’ dari orang-orang lain dan anak pun tidak termotivasi untuk mencapai target (karena merasa tidak mampu mencapainya)

Identity vs Confusion (12-18 tahun)
Anak belajar untuk membangun image dan identitasnya sendiri di tengah lingkungan sosial, bergabung dalam peergroup, dan mulai merencanakan masa depannya. Pengalaman relasi sosial mewarnai dinamikanya pada fase ini.
DO: Mendukung dan mengarahkan minatnya, memantau peergroup/kelompok sepergaulannya (tapi bukan mengekang), diskusi tentang nilai2 yg ia yakini >> Membentuk karakter yg matang
DON’T: Memaksakan minat tertentu, kurang mengapresiasi keunikan anak, membatasi pergaulannya dengan sangat ketat >> Kebingungan identitas, perilaku konformitas yang yang tidak sehat (suka ikut-ikutan), kekakuan dalam hubungan sosial

Menjadi orang tua adalah proses belajar, dan mempelajari setiap tahap perkembangan anak akan membantu kita untuk lebih mengenali & memahami dinamika perilakunya. Semoga mudah dipahami… 🙂

————–

By:
Widya S. Sari, M.Psi
RSUP Fatmawati
Jakarta Selatan

Mendisiplinkan Anak Secara Positif

Dikutip langsung dari : http://bintangwaktu.wordpress.com/tag/anna-surti-nina/

Siapa yang seumur hidupnya tidak pernah memarahi anaknya?Rasanya hampir tidak mungkin. Keluhan orang tua pada umumnya, anak mereka tidak menurut dan susah diatur. Rasa marah muncul akibat ketidaktahuan orang tua dalam “menguasai” anaknya. Bagaimana cara membuat anak disiplin tanpa membuat orang tua marah-marah?

Menurut Anna Surti Ariani, psikolog dari Klinik Terpadu Fakultas Psikologi UI dan Medicare Clinic Kuningan ini, idealnya orang tua memiliki pendekatan yang hangat, dekat dan penuh kasih saying, tapi juga bias tegas ketika mengatur. Aturan dibuat dengan kesepakatan bersama anak, bukan atas otoritas pribadi orang tua

Bagaimana cara mendisiplinkan anak yang membuat anak menurut tanpa menghilangkan harga diri anak?

  1. Perhatian positif (pujian)
  2. Pengabaian
  3. Kerja sama
  4. Tegaskan Batas
  5. Hukuman

Dari kelima teknik tersebut gunakan Teknik Perhatian Positif (Pujian) sebagai teknik yang paling sering dilakukan, dan gunakan Teknik Hukuman sebagai teknik yang paling jarang dilakukan

1. Perhatian positif (pujian)

Lakukan sesegera mungkin ketika anak melakukan sesuatu hal yang positif, termasuk hal yang sekecil mungkin.Bentuknya bisa berupa “pengumuman ke penjuru dunia”, hadiah kecil atau token system (good behavior chart).Hal yang penting ketika melakukan ini adalah orang tua melakukan kontak mata dengan anak, menunjukka ekspresi yang menyenangkan dan intonasi suara yang ramah. Pujilah tindakannya, bukan anaknya

2. Pengabaian

Hal ini bisa dilakukan untk perilaku anak yang kurang orang tua setujui tapi masih bisa ditoleransi.Teknik ini hanya bisa berhasil bila diikuti pujian segera ketika anak melakukan hal baik. Pastikan orang tua melakukannya segera setelah anak melakukan perilaku tersebut, tidak melakukan kontak mata, ekspresi wajah yang datar, tidak mengeluarkan kata-kata dan posisi tubuh tidak menuju ke anak

Bentuk lain dari pengabaian ini adalah orang tua melakukan hal lain ketika anak sedang bertingkah, berbicara hal lain ketika anak sedan g bertingkah atau teknik broken record

Metode broken record ini cocok untuk anak berusia 2-2,5 tahun tapi tidak untuk yang berusia 4-5 tahun ke atas. Caranya adalah mengulangi kata-kata yang sama berkali-kali sampai ia menurut apa yang kita kehendaki. Kuncinya adalah ekspresi yang datar dan kata-kata yang sama. Misalnya menyuruh anak mandi, “Nak, mandi nak…” bila ia bilang tidak mau, terus kata-kata “Nak, mandi nak…” diulang berkali-kali sampai akhirnya anak menyerah untuk bergerak masuk ke kamar mandi. Tetapi ada kemungkinan anak melakukannya dengan kesal

3. Kerja sama

Teknik ini dapat diterapkan pada anak usia 3-4 tahun ke atas ketika anak sudah mulai belajar untuk berpikir logis. Targetnya adalah melakukan kesepakatan dengan anak, dimana keputusan dibuat oleh anak dengan sedikit negosiasi dari orang tua.

Bentuknya antara lain sebagai berikut:

  • Berikan pilihan yang sudah orang tua seleksi sebelumnya. Misalnya “Adek mau pake baju yang mana, yang merah atau yang biru” sambil menunjukkan kedua baju tersebut. Cara ini selain membuat anak disiplin, sekaligus melatih anak untuk mengambil keputusan sendiri. Anak yang sudah dapat membuat keputusan sendiri, cenderung tidak akan melanggarnya
  • Teknik Berhitung. Misalnya, “Ayo mainnya bergantian, nanti kalau mama hitung sampe 5, abang tukeran sama adek ya.” Teknik ini sekaligus melatih kepekaan anak terhadap angka. Biasanya semakin besar anak, maka anak akan menawar angka yang lebih besar, seperti 10, 34, 46 dst J
  • Teknik Jam Dinding. Misalnya, “Abang boleh main game sampe jarum panjang di angka 12 ya.” Anak belum mengenal hal yang abstrak, sehingga jangan gunakan kata-kata “5 menit lagi ya.” Jangan lupa gunakan jam dinding/arloji dengan jarum jam, bukan digital. Akan lebih mudah bagi anak untuk mengkalkulasi waktu
  • Teknik Kalender. Misalnya, “Nanti kalo sudah tanggal 17, botol dot-nya kita buang ya.” Hal ini berlaku kepada anak yang sudah bisa membaca angka. Caranya anak diajak untuk melihat kalender setiap hari, beberapa hari menjelang hari yang ditentukan. Untuk menentukan tanggal ini pun, anak dapat bernegosiasi. Biasanya anak akan lebih patuh dan mudah melaksanakannya pada hari H bila mereka sendiri yang menentukan tanggalnya
  • Jika A maka B. Misalnya “Kalau adek cepat mandinya, nanti kita bisa segera jalan-jalan” Gunakan kalimat positif untuk mendapatkan hal yang menarik ketimbang “Kalau adek mandinya lama, nanti kita lama deh kita gak bisa pergi. Otak manusia (baik dewasa, apalagi anak) cenderung tidak dapat menampung kata-kata negatif, sehingga pesan yang diterima oleh anak adalah ia harus mandi lama agar lama tingga di rumah
  • Buat perjanjian tertulis. Tentunya bagi anak yang sudah mengerti membaca. Akan lebih “keren” lagi bila perjanjian itu ditandatangani kedua belah pihak (minimal anak membubuhkan namanya di sana), sehingga anak merasa seperti layaknya orang dewasa
  • Good Behaviour Chart Chart dengan gambar dan warna yang lucu-lucu dapat anda download dari internet. Misalnya, “Kalau Aa bangun jam 7 tiap pagi, dapat 1 bintang. Kalau dapat 10 bintang, bisa Aa tukarkan dengan 1 buah mobil mainan.” Teknik ini sangat powerful, tetapi banyak juga yang menentangnya, termasuk diantaranya Maria Montessori. Menurut Montessori, teknik ini tak ubahnya menjadikan anak seperti seekor hewan sirkus yang mau melakukan sesuatu dengan iming-iming makanan. Dalam kasus di atas, anak akan kehilangan makna pentin gnya bangun pagi, melainkan hanya ingin mendapatkan mobil mainannya saja

4. Tegaskan Batas

Teknik ini dilakukan sesegera mungkin dengan melakukan kontak mata dan ekspresi wajah yang tegas, bukan marah.Gunakan kata-kata singkat dan padat, dengan intonasi yang tegas.Gunakan dengan kata perintah. Bila belum berhasil, gunakan perintah berulang (broken record), peringatan akan konsekuensi negatif (cabut haknya untuk bermain/menonton) atau time-out (disetrap maksimal 1 menit untuk tiap tahun usia anak, lakukan di tempat aman dan di tempat yang sama untuk setiap time-out).

Hati-hati bila melakukan time-out, jangan sampai anak merasa harga dirinya direndahkan

5. Hukuman

Lakukan sesedikit mungkin dalam hal ini.Menghukum dalam hal ini adalah mencabut haknya, dengan memberikan konsekuensi negative atas perlakuan negatifnya.Misalnya, “Kalau kakak pukul mama sekali lagi, nanti sore kakak tidak boleh nonton TV ya.”Bila anak melakukan, segera lakukan konsekuensi tersebut, bila anak menangis, gunakan teknik mengabaikan.

Dalam menghukum anak, orang tua tidak boleh menggunakan kata-kata negatif, marah apalagi hukuman fisik seperti memukul, mencubit dll

Penerapan kelima teknik tersebut di atas, tentunya bukan lah proses yang instan yang membuat anak langsung menerima. Perlu kesabaran dan konsistensi dari orang tua untuk membuat teknik-teknik ini berhasil.

Pedoman Praktis Melatih Bayi dan Anak Berbicara

Dikutip langsung dari : http://www.idai.or.id/kesehatananak/artikel.asp?q=197541514289

Perkembangan berbicara bayi dan anak

  • Sekitar umur 7 – 8 bulan bayi mulai bisa bersuara satu suku kata, misalnya: ma atau pa atau ta, atau da
  • Sekitar umur 8 – 10 bulan bisa bersuara bersambung, misalnya : ma-ma-ma-ma, pa-pa-pa-pa, da-da-da-da-, ta-ta-ta-ta
  • Sekitar umur 11 – 13 bulan mulai bisa memanggil : mama !, papa !
  • Sekitar umur 13 – 15 bulan mulai bisa mengucapkan 1 kata, misal : mimik, minum, pipis
  • Sekitar umur 15 – 17 bulan mulai bisa mengucapkan 2 kata
  • Sekirtar umur 16 – 18 bulan mulai bisa mengucapkan 3 kata
  • Sekitar umur 19 – 22 bulan mulai bisa mengucapkan 6 kata
  • Sekitar umur 23 – 26 bulan mulai bisa menggabungkan beberapa kata : mimik cucu
  • Sekitar umur 24 – 28 bulan mulai bisa menyebutkan nama benda, gambar
  • Sekitar umur 26 – 35 bulan, bicaranya 50 % dapat dimengerti orang lain

(Sumber : Denver II, Frankenburg WK dkk, 1990)

Supaya tidak terlambat berbicara, latihlah sejak bayi

Bayi sejak lahir sudah bisa mendengar dan mengerti suara manusia, terutama suara ibunya. Walaupun bayi belum bisa menjawab dengan kata-kata tetapi bayi bisa menyatakan perasaannya dengan : senyuman, gerakan bibir, bersuara, berteriak, menggerakkan tangan kaki, kepala atau dengan menangis.

Dengan latihan setiap hari sejak bayi, lama kelamaan bayi dan anak dapat menjawab dengan kata-kata dan kalimat. Latihan ini sekaligus merangsang perkembangan emosi, sosial, dan perkembangan kecerdasannya.

Supaya bayi atau anak anda tidak terlambat berbicara, lakukan metode ini setiap hari, ketika anda berada tidak jauh dari bayi anda.

Melatih Bayi dan Anak Berbicara

I. Berbicaralah kepada bayi / anak sebanyak mungkin dan sesering mungkin, dengan penuh kasih sayang, walaupun ia belum bisa menjawab

  1. Bertanya pada bayi / anak.. Contoh : Adik haus, ya ? Gardi lapar, ya ?. Elta mau susu, lagi ? Ini gambar apa ? Ini boneka apa ? Ini warnanya apa ? Ini namanya siapa ?
  2. Komentar terhadap perasaan bayi / anak . Contoh : Kasihan, adik rewel kepanasan, ya ?. Nah sekarang dikipasin ya ? Ooo, kasihan, adik rewel gatal digigit nyamuk, ya ? Jatuh ya ? Sakit , ya ? Sini di obatin !
  3. Menyatakan perasaan ibu / ayah . Contoh : Aduh, mama kangen banget deh sama adik. Tadi mama di kantor ingat terus sama adik. Mmmh , mama sayang deh sama adik.
  4. Komentar keadaan bayi / anak.. Contoh : Aduh pipi Ade tembem ! Wow, Rama matanya besar banget ! Wah, kepala Gardi botak ! Ai, ai, Elta buang air besar lagi !
  5. Komentar perilaku bayi / anak Contoh : Wah, Rini sudah bisa duduk! Eeee, Tono sudah bisa berdiri ? Ai, ai, Ari sudah bisa duduk ! Wah, adik sudah bisa jalan !
  6. Bercerita tentang benda-benda di sekitar bayi / anak : Contoh : Lihat nih. Ini namanya bantal. Warnanya merah muda, ada gambar Winnie the Pooh. Adik tahu nggak Winni the Pooh ? belum tahu ? Winni The Pooh itu beruang yang lucu dan cerdik. Nanti kalau sudah gede pasti tahu deh. Yang ini namanya boneka Teletubies. Warnanya merah. Yang ini warnanya hijau, yang itu ungu. Nih, coba di peluk.
  7. Bercerita tentang kegiatan yang sedang dilakukan pada bayi / anak
    Contoh : Adik dimandiin dulu, ya ? Pakai air hangat, pakai sabun, biar bersih, biar kumannya hilang, biar kulitnya bagus sepeti bintang film. Sekarang dihandukin biar kering, tidak kedinginan. Sudaaaaah selesai. Sekarang pakai pampers, pakai baju, dibedakin dulu, biar kulitnya halus, wangi.. Nah, selesai. Enak, kan ? Asyik, kan ? Habis ini minum ASI terus tidur, ya ? Mama mau masak, ya ?
  8. Bercerita tentang kegiatan yang sedang dilakukan ibu : Contoh : Mama sekarang mau bikin susu buat adik sebentar , ya ? Nih, susunyal 3 takar , ditambah air 90 cc, terus dikocok-kocok. Kepanasan nggak ? Enggak kok. Nah, siap deh.

II. Dengarkan suara bayi / anak, berikan jawaban atau pujian

Ketika bayi / anak bersuara atau berbicara (walaupun tidak jelas), segera kita menoleh dan memandang ke arah bayi dan mendengarkan suara bayi / anak seolah-olah kita mengerti maksudnya.
Pandang matanya, tirukan suaranya, berikan jawaban atau pujian, seolah-olah bayi mengerti jawaban kita. Contoh : Ta-ta-ta-ta ? Ma-ma-ma-ma ? Kenapa, sayang ? Minta susu ? Mau poop ?

III. Bermain sambil berbicara

Ciluk – ba. Ibu mengucapkan ciluuuuuukk (muka ditutup bantal) beberapa detik kemudian bantal ditarik kesamping sambil ibu mengucapkan : baaaaaa !!.
Kapal terbang. Nih ada kapal terbang sedang terbang. Ngngngngngng. Ada musuh, kapal terbangnya menembak musuh … dor .. dor .. dor. Kapal terbangnya turun ke muka bayi terus keperutnya.
Boneka, dimainkan seolah-olah ia berbicara kepada bayi / anak
Menyebutkan nama mainan, nama makanan, anggota badan (tangan, kaki, jari-jari, mulut, mata, telinga, hidung dll.)

IV. Bernyanyi sambil bermain.

Pok-ambai-ambai, belalang kupu-kupu, tepok biar ramai, pagi-pagi minum …. cucu. Cecak-cecak didinding, diam-diam merayap, datang seekor lalat, …..hap ! lalu ditangkap. Dua mata saya, hidung saya satu, (sambil menunjuk ke mata, hidung dst.)
Putarkan kaset lagu anak-anak, ikut bernyanyi, sambil tepuk tangan, goyang kepala dll.

V. Membacakan cerita sambil menunjukkan gambar-gambar

Bacakan cerita singkat dari buku cerita anak yang bergambar. Tunjukkan gambar tokoh-tokoh yang ada dalam cerita (binatang, benda-benda, manusia). Tanyakan kembali apa nama benda tersebut, apa gunanya, siapa nama tokohTunjukkan gambar-gambar di dalam majalah.

VI. Menonton TV bersama anak sambil menyebutkan nama-nama benda, tokoh atau kejadian yang terlihat di TV
Itu mobil, yang itu kapal, itu sepeda. Itu kucing, di sebelahnya ada tikus dan anjing. Kucing melompat, tikus lari, anjing duduk.

VII. Banyak berbicara sepanjang jalan ketika bepergian (ke pertokoan, rumah keluarga dll) t tunjuklah benda-benda atau kejadian sambil menyebutkan dengan kata-kata berulang-ulang. Itu layang-layang sedang terbang, itu kakak sedang menyeberang jalan, itu burung sedang terbang, itu pohon ada bunganya, itu boneka pakai kacamata dll.

VIII. Bermain dengan anak lain yang lebih jelas dan lancar berbicaranya
Ajak bermain dengan anak lain (kakak, tetangga, sepupu) yang sudah lebih jelas berbicaranya, bermain bersama menggunakan boneka, kubus, balok, puzzle, Lego, gambar-gambar, buku bergambar dll.

PERHATIAN

  • Jangan memaksa anak berbicara.
  • Kalau bayi / anak bersuara (walaupun tidak jelas) berikan jawaban, seolah-olah kita mengerti ucapannya
  • Pujilah segera kalau dia berbicara benar.
  • Jangan menyalahkan anak kalau ia salah mengucapkannya
  • Kalau anak sudah bosan sebaiknya beralih ke kegiatan lain

Latihan – latihan ini selain merangsang berbicara sekaligus merangsang perkembangan emosi, sosial, dan perkembangan kognitif ( kecerdasan).

Sumber kepustakaan

Brooks JB ). Parenting Child With Special Needs. The Process of Parenting 3rd ed. 15 : 482-489. Mayfiel Publ. Coy., London (1991)
Coplan J. Language Delays. Dalam Parker, Zuckerman. Behavioral and Developmental Pediatrics. Litle Brown, Lomdon (1995)
Martin CA, Colbert KK.. Parenting Children With Special Needs. Parenting A Life Span perspective 11 : 270 – 272. McGraw-Hill, NewYork (1997)

Mendidik Anak Cerdas dan Berbakat

Sebagai orang tua masa kini, kita seringkali menekankan agar anak berprestasi secara akademik di sekolah. Kita ingin mereka menjadi juara dengan harapan ketika dewasa mereka bisa memasuki perguruan tinggi yang bergengsi. Kita sebagai masyarakat mempunyai kepercayaan bahwa sukses di sekolah adalah kunci untuk kesuksesan hidup di masa depan.

Pada kenyataannya, kita tidak bisa mengingkari bahwa sangat sedikit orang-orang yang sukses di dunia ini yang menjadi juara di masa sekolah. Bill Gates (pemilik Microsoft), Tiger Wood (pemain golf) adalah beberapa dari ribuan orang yang dianggap tidak berhasil di sekolah tetapi menjadi orang yang sangat berhasil di bidangnya.

Kalau IQ ataupun prestasi akademik tidak bisa dipakai untuk meramalkan sukses seorang anak di masa depan, lalu apa?

Kemudian, apa yang harus dilakukan orang tua supaya anak-anak mempunyai persiapan cukup untuk masa depannya?

Jawabannya adalah: Prestasi dalam Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence), dan BUKAN HANYA prestasi akademik.

Kemungkinan anak untuk meraih sukses menjadi sangat besar jika anak dilatih untuk meningkatkan kecerdasannya yang majemuk itu.

9 Jenis Kecerdasan

Dr. Howard Gardner, peneliti dari Harvard, pencetus teori Multiple Intelligence mengajukan 8 jenis kecerdasan yang meliputi (saya memasukkan kecerdasan Spiritual walaupun masih diperdebatkan kriterianya):

Cerdas Bahasa – cerdas dalam mengolah kata

Cerdas Gambar – memiliki imajinasi tinggi

Cerdas Musik – cerdas musik, peka terhadap suara dan irama

Cerdas Tubuh – trampil dalam mengolah tubuh dan gerak

Cerdas Matematika dan Logika – cerdas dalam sains dan berhitung

Cerdas Sosial – kemampuan tinggi dalam membaca pikiran dan perasaan orang lain

Cerdas Diri – menyadari kekuatan dan kelemahan diri

Cerdas Alam – peka terhadap alam sekitar

Cerdas Spiritual – menyadari makna eksistensi diri dalam hubungannya dengan pencipta alam semesta

Membangun seluruh kecerdasan anak adalah ibarat membangun sebuah tenda yang mempunyai beberapa tongkat sebagai penyangganya. Semakin sama tinggi tongkat-tongkat penyangganya, semakin kokoh pulalah tenda itu berdiri.

Untuk menjadi sungguh-sungguh cerdas berarti memiliki skor yang tinggi pada seluruh kecerdasan majemuk tersebut. Walaupun sangat jarang seseorang memiliki kecerdasan yang tinggi di semua bidang, biasanya orang yang benar-benar sukses memiliki kombinasi 4 atau 5 kecerdasan yang menonjol.

Albert Einstein, terkenal jenius di bidang sains, ternyata juga sangat cerdas dalam bermain biola dan matematika. Demikian pula Leonardo Da Vinci yang memiliki kecerdasan yang luar biasa dalam bidang olah tubuh, seni, arsitektur, matematika dan fisika.

Penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik saja tidak cukup bagi seseorang untuk mengembangkan kecerdasannya secara maksimal. Justru PERAN ORANG TUA dalam memberikan latihan-latihan dan lingkungan yang mendukung JAUH LEBIH PENTING dalam menentukan perkembangan kecerdasan seorang anak.

Jadi, untuk menjamin masa depan anak yang berhasil, kita tidak bisa menggantungkan pada sukses sekolah semata. Ayah-Ibu HARUS berusaha sebaik mungkin untuk menemukan dan mengembangkan sebanyak mungkin kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing anak.

Oleh: Dr. Andyda Meliala

Sumber : info.balitacerdas.com

Suka Duka Pumping di Kantor

Episode hidup kali ini rasanya perlu diabadikan. Kenapa? Karena kalau ditanya ibu-ibu yang lain, terutama new-mom, saya bisa jawab karena ada dokumentasinya. Maklum, emak emak suka lupa *nyengir*.

First Impression of Pumping

Hoalah..hari pertama saya sudah pumping. Karena Kaka belum bisa nyusu langsung di PD, belum jago, sampai akhirnya dia dehidrasi dan demam. Syukurnya, rumah bersalin tempat Kaka lahir proASI, jadi tidak ditawarkan sufor, tapi karena Kaka demam, dan belum bisa nyusu, ditawarkanlah cairan gula. Syukurnya, ayah Kaka yang sudah mengaku sebagai ayahASI (yes berhasil! padahal dia produk sufor lho), menolak dengan gigih (halaaah…) dan mendukung saya untuk segera pumping manual by hands (secara, belum bisa mompa pake alat, padahal sudah dibawa tuh alat..). Akhirnya mompa tangan, wadahnya apa? Yup, langsung ke cupfeeder, lalu disendoki sama ayah langsung ke mulut Kaka yang tidur melulu itu..

Alhamdulillah, sekitar 30ml pertama ASI saya yang kaya kolostrum berhasil disuapi ke mulut kecil Kaka. Perlahan, suhu tubuh Kaka mulai menurun ke suhu normal. Thanks to ayah.

Persiapan Sebelum Cuti Berakhir

Well, persiapan pumping di awal masuk pasca cuti 3bulan, hemm…awalnya pumping H-14 di rumah. Jadwalnya? Sesempatnya, kalau Kaka lagi bobo, setelah subuh, sebelum tidur, dll. Hasilnya..tuh kan saya sudah lupa..*hufh*. Kalau tidak salah sekitar 10-14botol saja (haaa…ketahuan malasnyaaaa..). Geleng-geleng deh kalau lihat di web foto isi kulkas para ibu yang penuh dengan ASIP.

Bagaimana dengan kulkas saya? Haiyaaaah…tidak pernah full. Padahal cuma kulkas 1 pintu. Bukannya tidak mau well prepared, tapi Kaka rencananya akan disekolahkan (istilah lebih halus lagi dari daycare) di dekat kantor, jalan kaki sekitar 10menit, naik motor 5menit. Jadi, kalau kenapa-kenapa tinggal tancappp… Selain karena, susah juga ternyata nyari waktu luang untuk pumping saat masih cuti, apalagi, cuma sendiri di rumah (berdua deng, sama si Kaka).

Sedikit memang, dibandingkan ibu-ibu lain. Lebih tragis lagi, saat trial daycare, ternyata Kaka ga suka ASIP yang disimpan lebih dari 5 hari. Konsul ke KL aimi (thanks to Mba Eldi), kemungkinan karena enzim lipase ASIP-ku banyak, jadi rasanya anyep kalau lama disimpan. Ada bayi yang nerima, ada yang nolak. Tapi penolakan itu lebih karena rasa, selera, bukan karena kandungan gizi atau kualitas ASIP. Oke..jadilah itu ASIP dibuang. Eh tapi ada yang lebih tragis lagi setelah ini.. What??

Yup, saat trial H-1, saya lupa bawa pompa. Alhasil, stock kosong dong.. ada sih ASIP yang ga dibuang, berharap Kaka akan lupa rasa dan berselera, tapi… akhirnya saya pumping manual (by hands), yang lama dan pegel (hosh!). Alhamdulillahnya, sang pemilik daycare baik hati meminjamkan pompanya yang jarang dipakai. Lumayan lah, dapat 2 botol.

Pumping @ Kantor

Pertama kali pumping di kantor, masih belum terbayang, gimana nanti sterilisasinya… Itu yang paling ribet sih.. Setelah googling dan tanya-tanya temen kantor (thanks to Mba Prima and Mba Ida), cukup dikocok-kocok air panas aja kalau mau digunakan lagi. Atau kalau tidak sempat, ya masukin kulkas aja pompanya, bisa dipakai untuk 8jam di hari yang sama. Alhamdulillah, kantor punya kulkas 2 pintu!

Tempat pumping di kantor bunda bisa di ruangan bunda sebenarnya. Cuma karena bunda berdua dengan dosen lain, bunda tidak bisa setiap saat menggunakan ruangan itu. Maklum beliau sibuk dan sering kedatangan tamu. Akhirnya sejak pertama,  bunda memilih ruang server untuk pumping (karena teman yang pumping-mom juga pumping disana). Tantangannya adalah…dingin rek! Namanya juga ruang server, puooolll banget dinginnyaaa.. Yaa berharap saja tidak mengurangi relaksasi saat pumping. Sambil senyum-senyum dalam hati, ada ga ya working mom yang pumping-nya di ruang server juga? Kadang, keyboardnya suka kepencet atau kesenggol.. Hehe.. Syukuri saja lah, lebih baik daripada harus di toilet. Tapi karena dinginnya itu, bunda akhirnya pumping di ruangan juga, kalau kondisi memungkinkan. Alhamdulillah dosen room-mate bunda ini kooperatif, bahkan suka cerita pengalaman membesarkan anak-anaknya dulu. Pernah juga bunda numpang di ruangan Mba Prima, karena dia kepala Lab, jadi ruangannya sendiri deh..

Hasil perah hari-hari pertama masih sedikit, 120ml dari double pumping. Mungkin karena bunda ga rajin perah pas cuti. Padahal dulu awal-awal Kaka lahir, hasil perahnya 120ml itu untuk single pumping. Sebenarnya ada tips untuk boosting ASIP menjelang masuk kerja pascacuti: saat menyusui, pumping PD yang satu lagi, atau, sebelum menyusui, pumping dulu PD-nya (supaya demandnya jadi lebih banyak).

Sehari 2-3x sesi pumping di kantor, dimulai jam10 atau 11, tiga jam berikut, dan sebelum pulang. Tapi semakin kesini semakin lebih sering 2x saja, hehe, bunda padahal tau urgensi disiplin jadwal pumping, tapi jadwal ngajar dan kesibukan yang tentatif membuat jadwal jadi tentatif juga. Apalagi tipikal saya, kalau udah serius sama satu pekerjaan, susah untuk di-interupt. Kalau jadwal molor, sesi kedua atau ketiga pumping biasa dilakukan di mobil, di perjalanan pulang menjemput Kaka di daycare. Syukurnya, kaca mobil sudah dilapisi dark film.

Akhirnya hasil pompa mulai meningkat, dari 120 ke 150, 16, 180, sampai pernah 240ml (double pumping). Alhamdulillah sehari bisa bawa 3-4botol untuk oleh-oleh Kaka. Naik turunnya hasil perah, bunda analisa selama ini lebih karena faktor daya hisap Kaka. Kalau Kaka lagi sedikit nyusu-nya, biasanya hasil perah juga menurun. Selain itu juga karena faktor fisik, kemudian baru psikis. Karena sejak menyusui, bunda menghindari pekerjaan tensi tinggi, waktu masih single, okelah dijabanin…hehe.. Walau bunda lagi agak stress dengan jadwal ngajar yang padat, belum lagi persiapan bahan ajarnya, hasil pumping bisa tetap banyak, dan juga sebaliknya, kalau lagi ga ada beban masalah (hayaaah…), pumping juga bisa menurun tuh..

Pengalaman paling sedih itu, ketika bunda mengorbankan jadwal pumping untuk masuk kelas ontime, eh malah mahasiswanya belum pada dateng. Uuuugghh…rasanya pengen bilang ‘hajat hidup anak saya, saya tunda demi kalian’, astagfirullah…langsung istighfar dan meluruskan lagi niat mengajar..

Memberikan ASIP untuk menunjang ASIX untuk Kaka, bukan sekedar untuk menjamin asupan terbaik untuk Kaka, tetapi juga karena Kaka mesti ASIX. Waktu Kaka 1,5 bulan, Kaka pernah dilanda kolik. Setelah melakukan diet menu tertentu atas anjuran dokter, koliknya hilang. Dan salah satu menunya adalah produk susu sapi. Jadi, kalau Kaka gagal ASIX, pilihannya tinggal susu soya, yang mana tingkat rekomendasinya masih di bawah susu sapi. Doakan ya semoga Kaka bisa lulus S1, S2 dan S3 ASIX, terus jadi profesor ASIX deh..:)