Ayah

Tentang ayah

Ayah Kaka adalah ayah yang hebat, suami dan lelaki yang sholih, bertanggungjawab, jujur, komitmen, pokoknya hebat deh.. *ayah jangan terbang yaaaa…^^*. Ayah (hampir) bisa melakukan segalanya, mulai dari pekerjaan laki-laki sampai perempuan, ayah tidak segan-segan bantu bunda saat bunda kesulitan atau tidak sempat mengerjakan perkerjaan ‘ibu-ibu’. Alhamdulillah ya Kaka, Allah anugerahi ayah seperti itu. Semoga Allah selalu menjaga ruh, jiwa dan raga ayah, amiiin…

Bunda cuma bisa deskripsikan dengan tulisan yang dulu pernah bunda buat tentang ayah:

 

suatu dini hari (to share and remind)

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’:13)

Semalam,

seorang sahabat menjawab pertanyaanku “gimana rasanya jadi istri?”

Dijawabnya, “rasanya tak henti henti bersyukur mi”

Kubalas senyum mengiyakan

Dan malam ini

sebenarnya malam yang biasa

hanya… tiba buncahan rasa yang menetesi air mata

bukan kesedihan kali ini

Ya. Terima kasih tak terhingga

betapa Maha Baiknya Allah, Pemilik dan Penganugrah cinta

Pemberi kesempurnaan kapabilitas fisik raga ini

keutuhan fungsi ruh dan fikir

kepekaan hati atas rasa

dan kali ini aku menakjubi rasa cinta

kompleksitas apa yang terjadi di dalamnya

bagaimana keuniversalannya masih memiliki taste yang berbeda

ah.. entahlah…

mungkin paragraf lalu ini hanya untuk tetes pertamanya

air mata

apalagi yang perlu diterjemahkan…

pada tetes tetes yang tersisa

saat cinta semakin memparipurnakan keimanan

saat aku terdiam takjub: kebaikan kebaikan yang tercipta di hidupku sejak keberadaannya

kelemahanku yang diback-upnya, kekurangan-kekuranganku yang ditambalnya

keburukan-keburukan amalku yang terkikis dengan kehadirannya

aku pun mengiyakan kalimat “rasanya, sulit diungkapkan dengan kata-kata”

bagaimana tidak

apa yang bisa kukatakan saat sejauh ini kami terpisah

ia yang merawatku saat aku sakit

memastikan aku istirahat dalam tidur, dan membangunkanku di waktu sholat

ia mencintaiku, namun mengingatkanku selalu kepada Sang Pemberi Rasa Cinta

agar tetap menjadi yang pertama

ia menjadi sebaik-baik pemegang amanah itu

sejak ayahku, ibuku, keluargaku menyerahkan sepenuhnya aku kepadanya

dan linear saat itu, aku menjadi makmumnya

ia sekuat tenaga melindungiku

menjagaku, memastikan aku baik-baik saja

walau ia tidak bisa menghadirkan dirinya di sampingku saat itu

ia meredakanku

ia menyampaikan logikalitas pendapat, saat fikir ini sedang keruh

ia menyenandungkan ayat-ayat-Nya, saat hati ini peluh..

ia menutup lemahku

dan memperindahku

ia menyampaikan ilmu dunia dan ilmu perbekalan di akhirat

agar kami diizinkan berkumpul di jannah-Nya kelak

ia… ia… dan ia…

tak habis-habisnya syukur ini atas anugerah: ia

ah..sungguh tak terucap

tak cukup kata mewakili kesyukuran membersamainya entah ke-berapahari ini

kurasa tak jauh beda kemegahan rasa yang diinsyafi sahabatku itu

atau sahabat-sahabat yang lain, yang telah menggenapi separuh diennya

aku selalu memastikan ini bukan euphoria sesaat, semoga juga pada kalian

aku mengimaninya sebagai pembuktian Allah kepada hamba-hamba-Nya

karena apalagi yang perlu diragukan dari ayat-ayat:

 

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum: 21)

 

Mereka itu ibarat pakaian bagimu, dan kamupun ibarat pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 187)

 

Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan mencukupi mereka dengan kurnia-Nya. Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nuur: 32)

 

Dan akhirnya…

Ini memang bukan euphoria

Karena saat pendar rasa ini terbiaskan di suatu saat, bukan berarti yang sebenarnya

Pasti rasa itu masih ada, bahkan jauh lebih dalam

Karena terpendam dalam cobaan dan siap berpendar saat kelulusannya

Karena nyata yang ada, dua insan dalam pernikahan tidak selalu mulus tanpa ujian

yang kadang menggetarkan kokohnya pilar-pilar cinta

Jika suatu saat goncangan cobaan menyapa kita, cintaaa..

ingatlah yang diriwayatkan Jabir bin ‘Abdillah dari Nabi SAW, beliau bersabda…

Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas lautan kemudian ia mengirim bala tentaranya. Orrang yang paling dekat kedudukannya dengan iblis adalah orang yang paling besar godaannya terhadap bani Adam. Salah seorang dari mereka datang dan berkata, ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis mengatakan, ‘Engkau belum melakukan apa-apa!’ Kemudian datang lagi yang lain dan berkata, ‘Tiada aku tinggalkan mereka (bani Adam) hingga aku berhasil memisahkan suami dari istrinya.’ Maka iblis menyuruhnya supaya mendekat dan berkata, ‘Sungguh hebat engkau!’ Maka iapun terus mendekatinya.” (Hadits shahih riwayat Muslim dan lainnya)

 

Semoga Allah menjaga ikatan cinta di antara hamba-hamba-Nya yang terikat dalam mitsaqon gholizho itu

Semoga yang masih terserak, segera disatukan dengan penggenap agamanya..

Cukuplah Allah sebaik-baik penjaga, berpegangteguhlah terus kepada tali agama Allah..

Wahai diriku.. engkau.. dan kalian, sahabat-sahabatku…

 

Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan doamu dikabulkan oleh-Nya” [Hadits shahih riwayat at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah(594)]

 

Wallahu’alam bishowab

us

ya Allah..kuatkanlah ikatannya…

 

 

~dini hari, transisi waktu menjumpai dia dan Dia

03 07 11

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s