Pindah ke Danchi

Akhirnya tiba juga hari dimana kita pindah dari apato yang sudah menjadi tempat tinggal kita selama 3 tahun 2 bulan (kalau Bunda sama Kaka: 3 tahun kurang 2 bulan). Kita memutuskan pindah, setelah beasiswa Ayah direncanakan akan berakhir di bulan April 2017. Sehingga sejak awal tahun 2016, kita mulai mencoba apply danchi (red: apartemen subsidi milik pemerintah), which means  lebih dari setahun sebelumnya kita mulai coba mengikuti undian danchi. Ya,undian, karena sistem mendapatkannya mesti diundi, karena banyak peminat (karena harga yang murah hingga 30% harga apato swasta). Karena sistem undian ini pula lah yang membuat kita spare waktu jauh-jauh bulan untuk apply, dimana dalam setahun ada 6x bukaan aplikasi danchi. Kita sendiri akhirnya mendapat urutan pertama dalam hasil undian yang ke-5, yaitu di bulan Oktober 2016. Konon katanya, kami pemegang rekor aplikasi terbanyak di antara mahasiswa Indonesia disini yang apply danchi. Sebelumnya ada yang pernah sampai 4x apply.

Semua mahasiswa Indonesia disini yang membawa keluarga pasti apply danchi, karena harga yang murah, lokasi strategis (dari teman-teman yang lain, stasiun, RS, dll), dan luas yang cukup nyaman untuk keluarga kecil (rata-rata keluarga dengan 1-2 anak), walaupun lebih jauh ke kampus (sekitar 3.5 km). Ketika apply danchi, mereka pada umumnya memilih danchi yang paling sedikit peminat, which is biasanya lantai 5, 4, atau mengandung angka sial seperti 4 dan 13. Beberapa juga ada yang tidak ikut undian. Kok bisa? Jadi, kita bisa datang di sela masa aplikasi danchi, lalu tanyakan apakah ada danchi kosong yang tidak jadi diambil. Kalau beruntung, bisa dapat. Biasanya danchi ini di lantai 5, mungkin yang dapat undian melepasnya karena alasan naik tangga ke lantai 5, taihen! Tapi berhubung kami mau program hamil di tahun terakhir PhD, yang mana riwayat kehamilan Kaka dulu rentan flek kalau naik turun tangga (even cuma 1 lantai), jadinya kami tidak mencoba peluang ini. Termasuk, tetap memilih danchi yang banyak peminat asalkan lokasinya di lantai yang tidak terlalu tinggi atau danchi ber-lift sekalian (yang ini banyak sekali peminatnya, sampai pernah 18 orang).

Milih danchi? Jadi begini, di daerah Chiyogasaki, sekitat 3.5 km dari Hibikino Campus, terdapat komplek apartemen pemerintah. Kalau tidak salah, ada 25 danchi yang dikelola pemerintah kota Kitakyushu, dan beberapa lagi (ga tau pastinya) milik pemerintah propinsi Fukuoka. Selama 6x masa bukaan aplikasi danchi, akan diberikan list, danchi mana saja yang kosong dan ditawarkan, lengkap dengan spek bangunannya. Misalnya danchi 20-406 (berarti danchi nomor 20, lantai 4, bangunan 6 paling ujung), luas 55 m persegi, 4DK-6-6-6 (berarti, dining room+kitchen seluar 4 tatami, dan 3 ruangan seluas 4 tatami), serta tabel harganya sesuai dengan golongan penghasilan/pajak. Disini, mahasiswa termasuk golongan tidak kena pajak (karena tidak bekerja/penghasilan lebih rendah dari batas penghasilan kena pajak setahunnya Jepang). Jadi, kita semua mendapat harga paling murah, sekitar 1.1 – 1.9 man yen (1.2-2juta rupiah) berbanding lurus dengan luas danchi

Danchi, tempat tinggal kita kini

Alhamdulillah, kita dapat lantai 3, di ujung, dengan posisi yang strategis: depan koen (taman bermain anak), belakang Honjo-nishi koen (lapangan baseball, koen, shimin senta/balai warga), tukang sayur dan cukup jalan 5 menit ke stasiun, 3 menit ke 7 eleven, 7 menit ke les renang Kaka. Sayangnya, sudah ga bisa jalan lagi deh ke kampus. Tetangga juga ada persis di danchi depan dan samping kita, belum lagi danchi keluarga Indonesia lainnya yang bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 5 menit . Alhamdulillah.. sungguh nikmat yang tak ternilai. Ayah pun sekarang kalau subuh berjamaah tinggal jalan kaki, dulu mesti naik mobil. Mudah-mudahan kita bisa punya mesjid juga di sekitar sini. Aamiiin.

Koen depan danchi

Tampak belakang

Bagaimana dengan apato yang lama? Hiks, sedih juga sih meninggalkan apato tempat Kaka dibesarkan sejak usia 1.5-4.5 tahun ini. Banyak suka dukanya. Walaupun memang sudah sejak lama, bahkan di tahun awal, kita sudah ada keinginan untuk pindah. Dulu alasannya karena cuma terdiri dari 2 ruangan (selain dining kitchen), yang mana 1 ruangan ini terpisah oleh toilet dan kamar mandi dari ruangan-ruangan pusat aktivitas kita (dining kitchen dan kamar yang menjadi ruang serba guna). Jadi mubazir deh ruangan tsb, biasanya kita pakai untuk nerima tamu (which is jarang banget ada tamu disini kecuali kita yang undang). Selain itu, ruangan tsb juga tidak kena matahari, jadinya dingin sekali kalau winter. Tapi kalau summer, malah adem, jadi kita juga suka pakai jadi kamar tidur kalau summer time. Alasan kedua karena tetangga persis di bawah kita jutek banget. Hehe. Beberapa kali benda kita jatuh ke taman belakangnya, jadi males berurusan sama orang tsb. Memang terbilang aneh sih keluarga ini, cewek cowok (entah suami istri atau bukan), jedela dan gorden ga pernah dibuka. Tapi di sisi lain, Kaka juga kehilangan teman mainnya di apato, tetangga beda beberapa pintu, Yuto kun dan Hiroki kun. Biasanya Kaka main petak umpet, sepeda, otoped dan main bola dengan mereka. Yaa, walaupun ada 1 tetangga yang ga menyenangkan, tapi lebih banyak tetangga yang ramah sih.

Apato kenangan, ruang serba guna

Apato kenangan, ruang serbaguna&dining kitchen

Apato kenangan, dinning kitchen

Apato kenangan, ruang depan

Ketika keluar dari apato, sebisa mungkin kita harus mengembalikan kondisinya seperti sedia kala. Jadi kita spare waktu 1 hari terakhir untuk kerja bakti, bersih-bersih, hilangin segala noda. Di hari penyerahan kunci, fudosan (agen) akan mengecek kondisi dan menghitung segala kerusakan. Jangan ditanya ya kita kena berapa untuk ini. Pintu kena bekas selotip sedikit aja mesti ganti satu pintu *nangis*. Tapi kurang lebih sama dengan biaya yang harus dikeluarkan ketika kita keluar dari danchi, kecuali kalau kita apply genmen (keringanan bayar danchi). Kalau status kita punya genmen ketika keluar danchi nanti, tidak ada biaya yang harus dibayarkan.

Foto-foto di atas diambil Ayah terakhir kali sebelum menyerahkan kunci ke fudosan. Hiks, sedih juga. Kenangan 3 tahun kita disana. Well, the next journey will start in our danchi. Bismillah..

Makan-makan pasca pindahan. Tradisi disini, pindahan dibantu rame-rame, setelah itu makan-makan disuguhkan tuan rumah yang pindahan. Indahnya kebersamaan 🙂

 

 

 

 

 

Iklan

2 thoughts on “Pindah ke Danchi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s