Conference & Holiday in Jeju

Conference yang ditunggu

Setelah hampir 3 bulan menunggu antara camera ready submission dengan hari-H, berangkatlah juga Bunda ke APSIPA 2016 (Asian-Pacific Signal and Information Processing Association). Sebenarnya salah satu cita-cita selama S3 disini adalah bisa jalan-jalan bareng keluarga sambil conference, entah conferencenya Ayah atau Bunda, atau dua-duanya ;). Berhubung conference Ayah selama ini jauh-jauh: US, Prancis, Sendai (yang ini ga jauh sih, tapi kurang menarik, hehe), jadinya APSIPA ini menjadi harapan terbesar karena lokasinya di Hawaii of Korea, Jeju Island. Conference ini juga ditunjuk Sensei karena lokasinya yang dekat, dan masih top level international conference di bidang ini (no.1 se-Asia Pasifik setidaknya). Alhamdulillah dapet Sensei yang pengertian, dari awal beliau memang selalu memilihkan conference bagus yang dekat, tahun lalu di Beijing, tapi ga keburu deadlinenya, hehe. Lalu akhir tahun lalu di Fukushima, alhamdulillah accepted walau ga ngajak keluarga. Entah yaa, mungkin Sensei prihatin kalau saya ninggalin anak jauh-jauh kelamaan. Atau karena khawatir dana terbatas? (ups)

Well, sebenarnya pula, Ayah belum bisa memastikan jadwalnya di lab apa bisa ditinggal pada tengah Desember ini. Senseinya ada jadwal keluar kota sebulan 2x, berharap pas dengan tanggal APSIPA. Kira-kira H-10 akhirnya Ayah memutuskan untuk ikut, alhamdulillah, yang paling senang itu Kaka, karena berarti dia ikut dan nginep di hotel (suka banget dia kalau nginep di hotel, loncat-loncat di atas kasur empuk, mandi di bathup, haha).

Free visa to Jeju?

Tadinya kita prediksi ga akan terlalu banyak spend money for this holiday, especially karena base rate hotelnya berdasarkan kamar (bukan jumlah guest seperti di Jepang) dan direct flight ke Jeju bebas bisa. Di website kedutaan, pun di website conference, dipromosikan banget kalau bebas visa as long masuk Korea langsung ke Jeju Airport. Tapi ternyata setelah konfirmasi ke kedutaan, yang dimaksud adalah mesti literally direct flight. Jadi walaupun masuk Korea langsung dari Jeju airport, tapi kalau kita sebelumnya transit di negara lain, tetap butuh visa. Aneh sih memang logikanya.

Waktu kita tanya ke petugas visa, dia jelasin dalam bahasa Jepang panjang lebar, tapi kita ga ngerti detailnya. Intinya waktu masuk ke Jejunya bisa, tapi pas balik lagi ke Shanghai, that’s the problem (entah apa), jadi kesimpulannya tetap butuh visa. Well, flight dari Jepang pun sekarang sudah tidak ada yang direct ke Jeju, padahal deket banget, mungkin ga sampe sejam penerbangan jaraknya dari Fukuoka. So, kita ambil penerbangan terekonomis, China eastern dengan rute Fukuoka>Shanghai>Jeju (lihat deh di peta, jadi mondar-mandir judulnya). Untuk tiket pp Bunda yang dipesan 1,5 bulan sebelumnya, harganya 240 USD, sedangkan Ayah yang dipesan H-9 sekitar 230 USD.

Oya, hasil googling, dulu sempat ada rute fery dari Fukuoka ke Jeju. Tapi entah kenapa websitenya cuma menginfokan sampai 2013. Tanya ke Sensei pun, Sensei ga tau. Dia sih ga rekomen juga naik fery, katanya yang cepet aja naik pesawat.

Tips transit di Shanghai

Departure flight yang kita ambil ini total perjalanannya 5 jam, dengan waktu transit 1 jam 50 menit di Shanghai. Disinilah note yang berharga dalam trip kali ini. Mestinya sebelum beli tiket, gugling dulu transit di Shanghai itu minimalnya butuh berapa jam. Kita cuma asal tau aja kalau di Shanghai itu ga sebesar Incheon, jadi nyari gatenya ga jauh lah yaa.. Tapi kita terlewat untuk mensurvey dulu prosedur transit di Shanghai itu seperti apa. Ternyata pemirsa, 1 jam 50 menit itu ga cukup, kalau tidak bisa dibilang mepet banget. Well, pilihan lain untuk China eastern belasan jam sih, jadi we couldn’t afford waiting too long juga, bawa balita gitu…

Jadi buat yang mau transit di Shanghai, FYI, parkir pesawatnya itu luamaaaa banget.. Area parkir pesawatnya ga nempel sama gate, dan entah kenapa landasannya pun masih jauh dari area parkir. Walhasil, sekitar 40 menit habis untuk sampai menginjakan kaki di bandara. Turun dari pesawat, kita dijemput 1 bus untuk 1 pesawat, which is walau kita udah buru-buru turun duluan dari pesawat, tetap aja busnya akan nunggu sampe penumpang terakhir turun. Perjalanannya busnya juga cukup lama, maybe 5-10 minutes. Area parkir pesawat itu sudah seperti real traffic jalanan. Banyak persimpangan yang bikin bus mesti nunggu kalau ada kendaraan yang lewat, belum lagi kalau ketemu pesawat yang mau lewat, yooo mesti ngalah.. Hadeuuh…

Another time consuming is.. ada 3 prosedur yang mesti kita lewati sampai akhirnya bisa duduk di gate (dan ternyata ga sempat duduk pula). Pertama, masuk ke area transfer, passport dan boarding pass kita dicek, disini ngantri, cuma 1 line yang dibuka. Next, masuk pintu yang ternyata dsitu ngatri pula untuk prosedur transfer. Sistemnya ada 2, bisa automatic transfer (pake mesin, operasiin sendiri, jadi lebih cepet), atau manual (lewat loket, petugas akan masukin data kita dan difoto, please deh, buat apa coba.. kan cuma mau transfer..). Berhubung kita berkeluarga, jadi kita disuruh yang manual. Syukurnya disini ada petugas antri yang ngecek jadwal boarding kita di tiket, karena sebentar lagi, jadi kita dikasih priority untuk duluan.

Keluar dari situ, kita mesti checking baggage, duuuh gusti… alhamdulillah ala kulli hal, antrian ga panjang. Keluar dari situ langsung cari gate, alhamdulillah ga terlalu jauh. Yang bikin ribet karena kita bawa koper kabin 2, jadi lumayan lari-lari sambil ngawasin si bocah. Kaka di bandara banyak nanya dan banyak tingkah, diving ala pemain bola, pura-pura jatuh heroik, dll… So, better not to bring many luggage kalau mau transit di Shanghai. Sampai gate, benar saja, sudah sepi, langsung lah ga pake duduk kita boarding, disambut bus lagi, dengan traffic yang sama menuju pesawat. Dan ternyata, busnya nunggu lama lagi, sweeping penumpang terakhir, cuuss baru jalan.

Sampai Jeju

Alhamdulillah sampai juga di Jeju. Disini prosedurnya ga seribet di Shanghai (once again, cuma transit padahal disana *masihkesel*). Masuk loket imigrasi, checking baggage, serahin form pernyataan barang bawaan, yup, hirup udara Jeju!

Welcome to Jeju

Bandaranya terbilang kecil. Diluar sudah bayak taxi mengantri di area nunggu taxi, rapih sekali antriannya, ada marka jalan yang menandakan batas taxi 1, 2, 3 yang mengantri. Jadi kita diminta naik dari situ. Jangan khawatir dengan rate taxi, insyaAllah disini terkontrol, 2,800 KRW untuk 2 km pertama, dan selanjutnya kelipatan 100 KRW (per 100m sepertinya). Di area taxi juga ada board informasi argo taxi. Di website hotel pun sudah diumumkan kisaran transport cost dari bandara sekitar 5,000 KRW (50 ribu IDR) dengan jarak 4 km. Alhamdulillah, cukup terjangkau ya. Dan benar saja, sampai hotel hanya sekitar 5,600 KRW. Supir taxinya ga bisa bahasa Inggris, kita cukup menyebutkan nama hotelnya dan alamatnya.

This photo of Ocean Suites Jeju Hotel is courtesy of TripAdvisor

Kita booking hotel di Ocean Suites Jeju Hotel, untuk kamar standard twin room, ocean view. Yup, alhamdulillah, dapet view langsung ke laut. Hotel ini cuma sekitar 400m dari hotel conference yang harganya 2x lipat. FYI, harga kamar di hotel ini 74 USD per malam untuk standard twin room dengan satu double bed dan satu single bed. Pas banget untuk kita. Harga segini di Jepang cuma dapet hotel kecil. Well, harganya miring juga karena pas musim dingin. Iya kali orang-orang pada mau ke pantai pas winter… Anginnya kenceng, karena benar-benar di tepi laut. Pas dicek harga summer, wuih 2x lipat jadinya. Overall, hotel ini memuaskan. Dengan harga terjangkau, lokasi dekat bandara, pelabuhan, view langsung ke laut, dekat dengan tempat-tempat perbelanjaan, traditional market, underground mall, resto-resto, di dalamnya juga ada convinience store dan toko souvenir dengan harga bersahabat. Cons-nya ada 2: kamar mandinya ga ada bathup (cuma shower) dan jauh dari tempat wisata lain. Lokasi ini di utara, sedangkan tempat wisata kebanyakan di selatan. Hotel ini sebenarnya dekat dengan pantai Hamdoek yang terkenal indah juga, hanya saja saat itu anginnya kencang dan dingin sekali.

 

 

This photo of Ocean Suites Jeju Hotel is courtesy of TripAdvisor

Cari makanan halal?

Malam setelah sampai, kita cari makan di luar, resto Baghdad adalah resto halal yang kita tuju. Resto ini satu-satunya yang dapat sertifikat halal, walaupun jual bir juga. Resto ini basicly resto India, kare dan naan yang jadi andalannya. Harga? Wuih, jauh lebih mahal dari resto sejenis di Jepang. Kalau di Jepang untuk satu set hanya seharga 900-1,200 JPY, disini karenya saja berharga 14,500 KRW (sekitar 1,450 JPY), ditambah naan sekitar 2,000 KRW (200 JPY). Sepanjang jalan pulang pergi hotel-resto, kita perhatikan susah sekali mencari resto yang safe buat muslim. Hasil googling, resto yang insyaAllah safe untuk muslim itu kebanyakan di daerah selatan airport. Rencananya resto disana kita save untuk hari terakhir.

39590_700x

Photo credit here

Mengingat harga di atas yang mengancam isi dompet, untuk selanjutnya kita cari makan di convenience store yang ada dimana-mana, lebih banyak daripada kombini di Jepang, bahkan daripada indomart/alfamart. Ada 7 eleven (kalau ini ga terlalu banyak), GS25 dan CU (dua ini menjamur di tiap pengkolan). Makanan yang bisa kita pilih seperti segelintir cemilan (bisa disearching di FB atau gugling), cooked ice (nasi setengah matang, tinggal dicing di microwave), baked/smoked egg, alaska salmon (kemasan kaleng), nori, dan bimbab. Bimbab ini onigirinya Korea, tapi hati-hati belinya, karena sering pake ham. Teman merekomendasikan yang isinya tuna mayo dan spicy tuna di GS25.

So, tipsnya untuk muslim lebih baik cari lokasi hotel yang dekat dengan resto halal atau vegetarian. Kalau mau hemat -seperti saya-, bisa bawa rendang, tuna kaleng, abon, dsb. Lolos kok di imigrasi. Kalau yang conference sih bisa makan di conferencenya ya, itu juga terbatas karena pesannya yang vegetarian. Mungkin seafood bisa, tapi karena ga yakin juga, pilih vegetarian aja deh. Gaya-gayaan waktu request sama pelayan restonya: I’m vegetarian, please. Lalu disodorkan lah dedaunan, kecambah, sayuran dan semacam miso sup. OMG. This is my first time. Bismillah… ternyata ga semua bisa diterima lidah. Well, kimchi was there, at least.

Resto lain yang kita cicipi adalah lovinghut. Ini kayak resto kecil (tapi internatsional lho, ada di berbagai negara), di dalamnya dia juga display beragam produk vegetarian yang bisa dibeli, selain menu masakan yang bisa dipesan untuk dimakan di tempat. Interesting. This is my first time trying vegetarian resto. Pernah diceritain suami pengalaman dia di vege resto sewaktu di Taiwan. Jamur dan bahan vege lainnya bisa disulap jadi makanan dengan tampilan ayam dan daging. Benar saja, ada sosis, ham, burger, fried chicken, dll. And here I was, trying that kind of food. Harganya juga terjangkau, sampe nyesel kenapa ga dari bandara mampir sini dulu (ternyata cuma 2km dari bandara). Kita pesan semacam tofu soup, fried chicken (ini Kaka suka banget), dan spicy vegan soup (lupa nama persisnya), totalnya hanya 20,000 KRW (2,000 JPY). Porsinya pun banyak. Langsung searching deh di Jepang ada dimana yaa, ternyata cuma ada di Tokyo, hiks.

Menu di lovinghut

Transport

Kita tidak terlalu mengexplore moda transport disini. Tapi yang umum ada yaitu bus dan taxi. Rate taxi terbilang murah, dengan argo yang sudah disebutkan di atas, sehingga naik taxi untuk keluarga adalah pilihan yang tepat (kecuali jarak jauh yaa). Untuk bus, harganya sekitar 130 KRW (13 JPY). Sistem bayarnya, beda dengan di Jepang. Pertama naik, langsung sebutkan tujuan dan bayar. Untuk praktisnya sebenernya ada ticket pass yang bisa dibeli di convenience store. Tapi karena kita lebih sering naik taxi, jadi belum nyoba beli.

Kendala Bahasa?

Yup, tentu ada. Unexpected, kita kira warga Jeju lebih English friendly karena bisa dibilang Jeju kan Bali-nya Korea, bahkan Hawaii-nya Korea. Tapi ternyata, sedikit sekali yang bisa berbahasa Inggris. Tulisan yang ada di tempat-tempat umum, plank-plank toko, resto, dll semua dalam kanji Korea. Bahkan kalau kita tunjukan alamat ke supir taxi dalam huruf latin, si supir masih perlu mencernanya (errrr…). Ada juga sih supir taxi yang bisa bahasa Inggris dan sangat friendly. Oya tentang friendly, orang-orang di pelayanan umum menurut kami sangat jauh dari keramahan orang Jepang, bahkan Indonesia. Awalnya sudah mencium gelagat ini tiap transit di Incheon. Tapi ternyata di Jeju juga begitu. Heran, padahal Jeju sudah terkenal sebagai destinasi wisata. Semoga ke depannya mereka lebih ramah lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s