A Piece of Your Journey of Faith

Bunda mau cerita tentang sepenggal perjalanan imanmu di negeri minoritas muslim ini. Saat ini usiamu baru menginjak 3 tahun 8 bulan. Kamu sudah terbiasa bahwa tidak semua makanan dan minuman disini bisa kita makan. Berawal dari rutinitas belanja mingguan yang selalu kamu ikuti, tiap kamu menunjuk sesuatu, kamu mempelajari bahwa Ayah dan Bunda mesti membaca kemasan dahulu untuk mencaritahu ingredientsnya, dan berakhir pada boleh dan tidak boleh. Kamu lebih sering menurut, sesekali bersikeras sehingga akhirnya kami alihkan dengan produk lain. Kala itu usiamu baru 1.5 tahun, belum lancar berbicara. Ketika 22 bulan, kamu sudah mulai bisa membentuk kalimat. Kamu suka bertanya kenapa? Dengan singkat, Ayah Bunda hanya jelaskan: “Kata Allah ga boleh karena ada sakenya nak.”

Ketika kamu mulai bersekolah di hoikuen, kamu semakin diuji. Karena kamu sendiri yang menu makannya berbeda, dan ga bisa mencicipi makanan dari sekolah karena lagi-lagi mesti makan masakan Bunda.. (jangan bosan ya nak..). Di laporan harian, beberapa kali Sensei cerita kalau kamu dapat buah hari itu dan kamu senang sekali: “Kaka, ini jeruk buat kamu, kamu boleh makan. Dan dia senang sekali.”. Alhamdulillah sensei-sensei di sekolahmu sangat pengertian, tiap kamu dapat bingkisan, sensei selalu bilang kalau dia tidak tahu Kaka boleh atau tidak, jadi dibawa saja ke rumah. Sampai di rumah biasanya kita langsung mensortir mana yang bisa mana yang tidak, kamu menampakkan raut harap-harap tanpa cemas. Kalau ada yang tidak bisa dimakan, kamu tidak sedih dan berlanjut ke makanan yang lain: “Kalau yang ini bisa bunda?”.

Minggu lalu, masa kenaikan kelasmu, Sensei memberi bingkisan dorayaki untuk semua. Kamu sangat senang , memeluknya di perjalanan, dan langsung menanyakan ke bunda setibanya di rumah. Sayangnya tidak bisa kita makan, karena ada sakenya. Tidak seperti biasa, saat itu kamu sediiiih sekali, kamu menangis pilu tanpa memaksakan kehendakmu. Bunda tanya: “Kaka kenapa sedih? Kaka sedih karena ga bisa makan dorayaki?”. Kamu jawab, “Iya.. huhuhu..”, sambil meraih pelukan Bunda, air mata masih berlinang. “Kata Allah kita muslim ga boleh makan itu nak..ada sakenya.. besok kita ke Sunny yuk cari kue yang bisa Kaka makan..”, Bunda mencoba mengajak kamu mengerti. Bunda tahu kamu sangat sedih karena itu pemberian sekolahmu, bukan sekedar makanannya (karena kamu juga ga terlalu suka dorayaki). “Yauda, Kaka peluk aja kotaknya yaa.. tapi ga boleh dimakan..”, solusi Bunda ini langsung kamu lakukan. Kamu peluk kotak bingkisan itu sambil menangis. Tidak lama kemudian kamu berhasil menghentikan tangismu dan berlanjut bermain.

2016-03-26 11.37.07

Bingkisan dorayaki yang Kaka relakan 2 kali kenaikan kelas ini

Bunda ingin mengajarkan, kalau kita meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Esoknya Bunda mengajak kamu ke Sunny, tapi kamu sudah ga punya hasrat makan kue. Benar kan, kamu hanya ingin bukan karena dorayakinya, tapi hadiahnya. Kamu lebih memilih puding ketika itu, daripada kue. Tapi akhirnya harapan bunda menjadi nyata nak. Dua hari kemudian, sensei menawarkan Bunda dua kotak penuh aneka Japanese sweets. Kebetulan akhir-akhir ini hanya Bunda yang di lab, dan sepertinya sensei nerima banyak oleh-oleh. Sensei bilang itu untuk Bunda, Bunda boleh pilih yang bisa dimakan. Dan alhamdulillah hampir semua muslim friendly (biasanya ada nyuukazai dan shortening yang masih syubhat atau sake). Langsung saja Bunda bawa sebagian ke rumah untukmu, sebagian Bunda sisakan untuk yang lain. Kamu senang sekali, terutama yang seperti mochi. Alhamdulillah ini jauh lebih banyak dan lebih kamu sukai.

image

Hadiah dari Allah melalui senseinya bunda

Begitulah nak, saat dewasa nanti kamu harus ingat perjalanan imanmu ini.. Kamu percaya bahwa Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik apa-apa yang kamu tinggalkan karena-Nya. Jika suatu saat kamu merasa lemah melakukannya, ingatlah hari itu.. dimana usiamu sangat belia namun sudah bisa mengendalikan hawa nafsumu dan merasakan balasan dari Allah. Semoga Allah menjaga imanmu, nak…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s