Catatan PhD Mom #1: Yakin lanjut S2/S3?

Saya selalu bilang ke teman (terutama perempuan) yang minta saran untuk lanjut S2/S3, bahwa S2 dan terutama S3 itu sangat beda sekali dengan S1. Kalau dulu di S1 kita duduk di kelas, dengerin dosen ngajar, kalau di S2 mulai banyak riset/penelitian (walaupun ada pilihan mau course based atau research based) dan S3 full riset semi-mandiri. Saran saya pertama, sebelum memutuskan untuk S2/S3, coba tanyakan ke diri sendiri apa tujuan kita untuk S2/S3. Saya kurang tahu untuk bidang yang lain, terutama bidang sosial, mungkin beda kondisi. Tapi untuk bidang saya, S2 lebih dominan untuk riset, apalagi S3. Bisa dibilang, arahannya lebih berat untuk bekal menjadi researcher atau akademisi. Kecuali di negara maju yang memang syarat melamar kerja sudah banyak yang meminta minimal S2. Jadi, menurut saya amat disayangkan kalau kita belum punya planning untuk apa kita lanjut S2/S3. Kecuali bagi yang merasa memiliki banyak waktu dan uang, abaikan pendapat saya. Pengalaman teman saya bisa jadi salah satu pelajaran, dia lanjut S2 di luar negeri, dan ketika kembali ke Indonesia, bekerja di bidang IT dengan ijasah S1, standar S1. Terlepas dari memang itu semua takdir Allah, tapi alangkah lebih well-prepared jika keputusan S2 didukung dengan professional-need.

Maka, untuk dunia professional, saran saya, jika memang ingin sekolah lagi, ambilah bidang yang memang sejalan untuk mendukung achievement karir kita, walaupun tidak sesuai dengan bidang ilmu sebelumnya. Dengan kata lain, jika karir membutuhkan achievement di bidang communication skill misalnya, dan itu yang perlu digali dari diri kita, lebih baik kursus di bidang tersebut, dibanding ambil S2 di bidang yang sama dengan S1 kita sebelumnya, tetapi tidak dibutuhkan di karir kita. If I may say, untuk apa mengejar ambisi S2/S3 kalau pada akhirnya ilmunya tidak dipakai. Terutama karakteristik S3 itu sangat specialized, jadi memang tidak untuk expect karir (baca: gaji) yang lebih tinggi di dunia profesi. Saya bilang begini juga ngaca sama diri saya sendiri sih. At least, untuk karir saya sekarang (dosen), memang S3 di luar negeri menjadi syarat. Saya pun tidak bisa menjamin kebermanfaatan untuk jangka panjang, tapi setidaknya untuk my near future, it is required. Terlebih lagi, Indonesia sedang meningkatkan indeks penulisan ilmiah, yang itu hanya bisa dilatih dengan serius menjalani penelitian dan penulisan yang sebagaimana mestinya, dimana S2 terutama S3 di luar negeri menjadi solusi.

 

image

Kedua, jika sudah memutuskan tujuan, maka selanjutnya tahap memilih. Memilih bidang studi, memilih universitas, negara dan professor pembimbing. Why? Karena ini faktor penting dalam kelancaran studi kita nantinya. Jangan semata-mata memilih karena universitasnya terkenal, negaranya keren buat jalan-jalan, atau profesornya cuma ada itu di universitas tsb. Pilihlah profesor terbaik di bidang kita, sesuai kondisi kita. Lebih baik lagi jika kita bisa cari tahu gaya ngebimbing profesor tsb. Apakah tipikal yang cuek-ninggalin, baik-tapi ninggalin, baik-ngayom, dsb. Saya lebih memilih universitas yang namanya tidak terkenal tapi profesornya terkenal di bidangnya dan ngayom, daripada universitas terbaik tapi profesornya ga punya waktu untuk ngayom bimbingannya. Buat saya, saya butuh profesor yang mau ngajarin tapi ga nyuapin. Agak susah memang nyari yang pass. Mesti banyak-banyak doa, hehe. Ini penting banget, karena kita belum terbiasa melakukan penelitian semi-mandiri, jadi butuh belajar dari profesor dan teman-teman lab. Agar nantinya ketika lulus, kita bisa melakukan penelitian mandiri (untuk yang S3). Mahasiswa Indonesia juga belum terbiasa menulis paper untuk proceeding apalagi jurnal. Banyak kejadian mahasiswa Indonesia disini yang terkendala masalah menulis ini.

Ketiga, survey supporting system yang ada. Ini khusus untuk para Ibu atau yang membawa keluarga/anak. Kita mau meraih pendidikan yang baik begitu juga concern yang sama terhadap keluarga kita, ya kan? Misal di Inggris, daycare mahal, kita harus gimana mengatasinya kalau memang mau disana S2/S3nya. Di Jepang alhamdulillah murah, tapi masalah agama mungkin lebih sedikit komunitas muslimnya, mesti gimana penanaman agama kepada anak-anak kita? Kemudian untuk fasilitas kesehatan dan pendidikan serta biayanya untuk jangkauan kita. Ini bukan yang utama sih, tapi bisa dipertimbangkan. Yaa hal-hal seperti itu perlu direncanakan juga.

Well, bagaimana dengan saya? Bisa dibilang, saya termasuk yang nekat ngambil S3 di bidang yang tidak benar-benar saya kuasai. Karena prinsip saya ketika itu, yang penting keluarga nomor satu, ga pisah (lagi) sama suami, apalagi anak, dan cari yang profesornya bagus tapi ga strik. Jangan berpatok pada reputasi universitas semata, tapi profesornya juga. Inilah yang saya bilang sesuai kondisi kita. Bagi yang mau struggle, mungkin akan mengambil jalan LDM (long distance marriage) demi menggapai cita-cita S2/S3nya. Tapi bagi saya, keluarga nomor 1, apalagi anak saya pasti butuh kehadiran Ayah Ibunya secara fisik completely. Dan alhamdulillah, sensei/profesor yang saya pilih cukup kondusif. Beliau cukup (atau malah) sangat supportif buat saya. Ini yang menurut saya sangat penting buat para ibu yang mau melanjutkan sekolah (terutama S3), tetapi tetap mau punya waktu fleksibel untuk keluarga. Sensei salah satu ahli image processing yang terkenal di Jepang. Selain beliau, ada juga profesor senior yang sudah IEEE Fellow di Tokyo Institute of Tech dan semacam IPB-nya Jepang (lupa namanya).

Jadi teringat waktu pertama kali saya menghadapnya untuk apply jadi mahasiswa PhDnya, dengan PDnya saya meyakinkan dia kalau saya mau belajar basic-basic yang belum saya punya. Tapi di tengah perjalanan, saya pernah ga PD setelah ngeliat level teman-teman di lab, hati suka ciut. Di bidang saya, image processing, hanya ada 2 paper dari Jepang yang accepted di top level jurnal tahun 2015. Teman saya ini, berhasil accepted di awal 2016 ini. Bisakah saya? Malah sensei yang meyakinkan saya: “Starting kamu ga jauh dengan mereka. Kamu mengenal metode ini sekarang, dia (doktor tingkat 3) juga baru tau itu pas M2 (master tingkat 2). Dia (nunjuk yang lain) baru menemukan novelty di tingkat akhir, dia (doktor tingkat 2) sampai sekarang belum menemukan novelty. Kamu juga sudah tau banyak hal dibandingkan pertama kamu datang kesini. Buat saya kamu sudah cepat belajar”. Alhamdulillah… padahal saya sempat mikir sensei kasian kali ya nerima saya emak-emak gini… Atau malah dulu waktu pertama saya datang, sensei ga ngira kalau saya sudah beranak 1. Hehe.

 

2016-02-20 11.45.34

Raising your kid(s) while working on PhD

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s