Kaka’s First Day in Swimming School

Di Jepang, kebiasaan dan kecintaan akan olahraga sudah ditanamkan sejak dini, dan selalu mendapat perhatian khusus di sekolah-sekolah sejak TK, bahkan daycare. Bukan sekedar jam pelajaran olahraga yang seminggu sekali, tapi jauh lebih lama, lebih sering bahkan dibuatkan event khusus (undokai – sport performance satu sekolah yang ditonton oleh keluarga para muridnya). Banyak artikel maupun video yang memperlihatkan salah satu keunggulan pendidikan Jepang ini. Selain di segi pendidikan, support pemerintah juga dalam hal sarana/prasarana. Banyak sarana umum yang menunjang aktivitas olahraga, seperti koen-koen (taman) yang dilengkapi perangkat exercise (minimal palang) ataupun lapangan baseball dan lapangan-lapangan lainnya.

Sebagai turunan Ayah yang pecinta olahraga, Kaka sudah terlihat kegemarannya di bidang ini, terutama sepak bola dan lari. Sejak pertama masuk hoikuen, Senseinya sering melaporkan Kaka joozu (jago) setiap ada permainan bola, lari maupun senam (roll depan, lompat, dll). Skillnya jauh di atas usia sebayanya. Alhamdulillah, mungkin Kaka belum bisa di hal lain (baca, tulis, menghafal huruf), tapi sudah muncul bibit unggulnya disini. Anehnya, sampai di rumah, Kaka seperti tidak ada capeknya. Bahkan, masih suka roll, jump, dan ngajakin Ayah/Bunda lomba lari di dalam rumah. Kadang, kalau dia malas ke toilet, Bunda pancing dengan ngajakin dia lomba lari. Yang tadinya kekeh ga mau ke toilet, jadi semangat, hahaha. Di sisi lain kami juga berpikir, mungkin karena Kaka senang ketemu Ayah Bunda lagi setelah seharian sekolah. Alhasil, dia sering tidur jam11 malam.

Kembali ke tema utama. Jadi, karena kami mikir: kok Kaka energinya di rumah ga ada habis-habisnya yaa?? Lalu kami berniat mengikutkan Kaka ke les salah satu olahraga. Cari info sana-sini (sambil lalu sih, ga ngoyo). Maunya sih yang sesuai dengan anjuran agama, tapi kalau berkuda belum aman lah yaa untuk usia segini. Sempat tertarik ikut Kyuudo, panahan khas Jepang. Bunda sih yang tertarik, karena teman di lab ada yang ikut klub dan sering tanding. Tapi urung setelah dia jelasin bahwa ada latihan fisik untuk kekuatan memanah, karena busurnya itu guedeeee banget (pernah di bawa ke lab, Sensei aja sampe excited nanya-nanya ke dia). Selain itu, sepertinya Kaka bakal ga betah sama model olahraga yang butuh konsentrasi dan target based. Kata teman Bunda juga, belum ada yang untuk anak 3 tahun seperti Kaka.

Beranjak dari Kyuudo, kami melirik renang. Setelah nanya Mba Desy, ternyata anaknya les renang di deket danchi. Waah, curious, ternyata ada yaa sekolah renang dekat rumah.. Dan surprisingly, lokasinya di depan Honjo Eki, itu mah kita sering lewat, kok ga ngeh yaa..  Memang sih dari luar tidak terlihat seperti kolam renang, karena memang bentuknya gedung 2 lantai (walau ada gambar lumba-lumbanya). Ya iyalah yaa, disini ada musim dingin, masa’ iya kolam renang sekolahan outdoor.. (sekolah renang maksudnya).

Akhirnya, baru minggu lalu sempat janjian sama Mba Desy untuk survey dan trial pertama. Katanya, lagi ada promo yang mengratiskan trial sampai 3x. Well, gimana reaksi Kaka sesampainya disana? Sebelum sampe sana sih, dia excited banget ngebayangin renang sama kakak Shi dan kakak Yuu. Eeh sampe sana, dia keasikan main sama Hiro, dan ga mau nyobain renang. Bujuk bujuk, akhirnya Kaka mau setelah dijemput kakak Shi untuk ke kolam bareng. Kami berpisah di depan ruang ganti pria, lalu mereka masuk ke pintu terusan di dalamnya, menuju ke semacam ruang absen, disana mereka melakukan pemanasan dan selanjutnya turun ke bawah menuju kolam. Bunda melihat dari tembok kaca di sepanjang ruang ganti dan seluruh lantai 2 tadi. Dari situ, orangtua bisa melihat jelas aktivitas anak selama di kolam renang, sangat jelas.

image

Kolam renangnya terdiri dari 6 jalur yang diberi partisi apung. Jalur pertama, diberi partisi apung sehingga menjadi 3 kolam yang lebih kecil. Kolam kecil ini ditujukan untuk kelas-kelas untuk pemula. Kedalaman ar di bagian ini kira-kira 100 cm. Bagi pemula, mereka harus memakai pelampung tangan yang diberikan gratis di awal pendaftaran, atau pun dipinjamkan ketika trial. Untuk 3 kolam kecil ini, semua pelatihnya perempuan. Satu kolam dipegang oleh 2 orang pelatih yang memegang sekitar 6-10 anak (tergantung kehadiran peserta di sesi tsb).

Para pelatih terlihat sudah sangat paham dan terbiasa melatih anak-anak balita yang belum bisa berenang sama sekali. Awalnya mereka datang berbaris menuju ujung tepi kolam, lalu dibilas dengan shower. Kemudian anak-anak duduk di tepian kolam, kaki masuk ke air. Mungkin ini untuk adaptasi sambil dibrifing. Tidak lama, anak-anak langsung mengikuti perintah pelatih. Pertama, mereka dilatih merambat di tepi kolam debgan tangan, Kaka bilang seperti kani san (kepiting). Kemudian mereka diajarkan mengitari kolam sesuai papan marka yang diletakan di dasar kolam. Selain itu, mereka belajar melompat dengan benar. Disini, Kaka masih melompat seperti di darat, dimana kaki duluan yang nyemplung (mestinya kan tangan duluan). Lalu, mereka diajarkan menggerakan kaki ala gaya bebas. Terakhir, papan marka diberdirikan untuk dijadikan perosotan, dan anak-anak bergantian meluncur. Di akhir sesi, mereka diberi waktu bebas bermain. Pelatih akan mengeluarkan sebox mainan air. Disinilah mereka bercengkrama lebih akrab dengan teman dan pelatih. Seru yaaa.. Tak terasa, 70 menit pun berlalu, saatnya keluar dari kolam, hehe.

image

Yang juga menakjubkan, walaupun itu sekolah renang, tapi ga ada satu pun area yang becek selain tepi kolam. Tepi kolam pun airnya tidak menggenang karena dilapisi semacam karpet biru yang seolah menyerap air ke bawah. Bahkan, ruang ganti pun kering, walau tetap ada keset-keset penyerap yang disusun sepanjang daerah untuk jalan. Tapi keset itu pun tidak basah, hanya sedikit lembab, malah cenderung kering. Jadi, tidak ada becek dimana pun. Ketika Kaka selesai dan bunda lap dengan handuk pun, sepertinya sudah kering, tidak seperti orang abis renang atau mandi pada umumnya. Setelah ditanya, ternyata disana prosedur mereka setelah dari kolam, anak-anak masuk ruang shower, lalu ke ruang pengering. Wiih keren banget.

Melihat fasilitas yang diberikan, kualitas yang bagus, dan antusiasme Kaka, akhirnya Ayah Bunda memutuskan untuk daftar hari itu juga. Apalagi dengan fasilitas dan pelayanan yang seperti itu, mereka menetapkan harga yang sangat terjangkau. Iuran bulanan untuk paket free (boleh datang hari apa aja dan berapa kali pun, tak terbatas) hanya 7,580 yen, atau sekitar 800 ribu rupiah. Sedangkan kalau mau ambil paket fix (waktu dan frekuensi ditentukan), itu lebih murah lagi , sekitar 6,000 yen. Mereka pun menawarkan fasilitas mobil jemputan dengan biaya tambahan. Karena jadwal Ayah Bunda yang tidak menentu, kami memutuskan untuk mengambil paket free tanpa fasilitas jemputan. Di pendaftaran ini kami harus membayar extra 2,500 yen untuk administrasi pendaftaran dan mendapatkan paket perlengkapan renang yaitu tas, celana renang, kacamata renang, pelampung lengan, dan topi (ini banyak yang digratiskan, tas renang saja harga aslinya 2,500 yen).

image

So, sekarang bukan hanya tas sekolah saja yang mesti Kaka siapkan, tapi juga tas renang ini. Walaupun terlihat isogashii, tapi kami sepakat untuk tidak memaksa Kaka, karena tujuannya pun hanya untuk menyalurkan energi berlebih Kaka pada kegiatan yang bermanfaat (sambil berharap efek samping cepat tidur dan makan lahap). Jadi kalau Kaka lagi tidak berenergi, atau tidak bersemangat untuk renang, kami tidak akan paksakan. Hari-hari ke depan akan kami tawarkan saja, “Kaka mau renang besok?”. Yes or no itu pilihanmu, Nak 😊. Gambatte Kaka kun!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s