Another Indonesian Cooking Class

Akhirnya ada lagi panggilan ngajar masak indonesian cuisine di tahun ini. Kali ini tawaran datang dari teman nihongjin-nya Yoni, teman ayah bunda yang sudah sangat fasih nihonggo (karena memang studinya itu, hehe). Jadi, dia punya banyak kenalan nihongjin. Teman Yoni ini, sudah cukup berusia. Beliau pernah ikut kelas masak yang diisi oleh Yoni dan Awhi (iya, yang punya Awhi bento). Nah ceritanya kali ini beliau ngajakin teman-teman yang lain untuk belajar masakan Indonesia di Ashiya shimin senta, lumayan jauh, 15 menit dari rumah.

Tadinya kita mempersiapkan menu mie ayam, karena kita menghindari goreng-gorengan, dan memilih yang ada karbo, lauk dan sayuran jadi satu. Ternyata, H-3 baru dikonfirm (setelah kita mengirim email resep mie ayam versi nihonggo) bahwa mereka mau menu yang sama seperti yang Yoni dan Awhi ajarkan ketika itu, yaitu nasi goreng, perkedel dan ayam goreng. Wow, 3 menu, taihen desu ne… Apalagi perkedel, dua kali proses goreng nih. Amazed juga sih nihongjin request perkedel, secara mereka ga suka goreng-gorengan, apalagi orang tuanya.. Karena waktu sudah mepet, bunda juga lagi sibuk revisi paper untuk IEEE transaction (tsaaah, maklum, my first, so nervous, lulusin ya Allah.. ), akhirnya bunda handle persiapan nasi goreng saja, belanja bahan dan nentuin resep.

Resep yang dipilih diadaptasikan dari resep yang pernah dishare Mba Susianne Flo, yang katanya bocoran resep dari seorang chef hotel. Pernah nyoba dan lumayan suka. Lebih mantep lagi kalau minyaknya pakai minyak baceman bawang, itu lho, minyak wijen dan bawang putih yang direndem seharian. Jadi tau minyak wijen (goma) disini seperti apa. Setelah ngelist bahan yang belum dipunya, langsung lah H-1 sore belanja aneka minyak dan saus di cosmos. Thanks to ayah dan kaka yang bersedia nemenin bunda belanja sepulang sekolah. Berikut resepnya:

Nasi Goreng Hotel

Bahan yang dihaluskan:

  • 6 bawang merah
  • 6 bawang putih
  • 3 cabe merah (skip untuk nihongjin, resep asli: plus setengah tomat)
  • 1/2 sdt garam
  • 1 sdt gula
  • 1 blok terasi (resep asli: kaldu ayam blok)

Bahan:

  • 4 porsi nasi (sekitar 6 sendok nasi munjung)
  • 1-2 sdm margarin (bisa diganti minyak bekas goreng ayam)
  • 2 telur
  • 3 sdm kecap manis
  • 3 sdm saus tiram (resep asli: saus teriyaki dan kecap inggris)
  • 3 sdm minyak ikan
  • 1 sdm kecap asin/ shoyu (pilih yang alkohol free)
  • 1-2 sdm minyak wijen (bisa diganti baceman bawang)
  • 2 sdt shiokosho (lada-garam)

Cara:

  1. Tumis bumbu halus dengan margarin/minyak bekas goreng ayam
  2. Masukan nasi, besarkan api, tuang aneka minyak dan kecap, sambil aduk cepat.
  3. Tambahkan shiokosho
  4. Masukan telur, aduk cepat. (Telur yang dimasak di atas nasi goreng memberi citra rasa tersendiri dibanding telur yang dimasukan sebelum nasi)
  5. Cicipi rasa, tambahkan minyak ikan jika kurang asin, atau tambahkan shiokosho jika kurang gurih

Pagi pun tiba, sadar dengan persiapan mendadak dan seadanya, kami sepakat untuk memberi kesan beda dengan mengenalkan ulekan ke mereka. Tidak hanya itu, kaldu bubuk pun kami ganti dengan terasi. Yup, mestinya namanya nasi goreng terasi kali yaa. Sarapan hari itu pun terpaksa nasi goreng juga, sebagai gladiresik demo masak nanti, hehe. Sudah kebayang sih seharian makan nasi goreng. Oh ya, salah satu tantangan masak nasi goreng disini adalah nasinya, karena beras Jepang sangat lengket dan lunak. Katanya sih, pas masak nasi, airnya dikurangi. Tapi bunda belum nemu takaran yang pas. Mengurangi resiko gagal, Yoni membawakan beras Thailand, yang hasil nasinya pera, mirip beras kita (yaiyalah, banyak beras impor Thailand juga kan di Indonesia). Selain masalah beras, penyesuaian takaran bahan untuk porsi besar juga cukup menyulitkan. Mungkin karena belum biasa masak dalam jumlah besar.

image

Persiapan bahan

Sesampainya disana, bunda cukup terkejut, selain cukup dibuat excited, karena peserta yang banyak (sekitar 40 orang termasuk kami). Pengalaman-pengalaman sebelumnya hanya 20-an orang, itu pun suasananya lebih nyantai, walaupun lokasinya di dapur ComCity yang kelasnya gedung mewah (tingkat Yahata, level kecamatan). Kalau ini, di shimin senta (level kelurahan kira-kira) , gedungnya lebih sederhana. Walaupun lebih kecil, tapi isinya tidak kalah lengkap dengan dapur ComCity. Kompornya ada 6, tersebar di 6 meja. Tiap kompor terdiri dari 3 tungku. Belum lagi peralatan masak, makan, dan penyajiannya, lengkap banget dan banyak. Cuma satu yang mereka ga punya, ulekan 😆

Hal lain yang diluar ekspektasi, ada fotografer yang tampaknya profesional untuk liputan, wartawan yang mewawancarai Yoni, dan juga pembukaan dan penutupan yang cukup formal. Bunda sampai segan mengambil foto, selain karena ga sempat juga sih. Sebenarnya berharap ayah fotoin, tapi ayah lebih sering diluar nemanin Kaka main (sampai main ke pantai mereka.. 😁). Overall, sangat menyenangkan dan berkesan. Kami dibuat sibuk mengitari semua kelompok satu per satu, memantau, mengarahkan, sampai membantu langsung.. Walaupun ada satu kelompok tetap untuk masing-masing kami secara tidak sengaja. Bunda kebetulan sering hinggap di kelompok yang isinya kebanyakan aki-aki (yang lain hampir semua isnya ibu-ibu atau ninik-ninik), karena kelompok ini paling ujung, jarang dilirik, dan jumlah anggota paling sedikit.

Yang seru di kelompok ini, aki sang chef nasi gorengnya masaknya sambil lempar-lempar nasi di atas wajan(apa deh istilahnya), ala chef profesional (apa jangan-jangan memang chef yaa). Hal seru lain, ada yang ngulek bawang merah sambil berurai air mata, padahal sih ga pedes-pedes amat deh, bawang impor agak beda, yang lain juga ga kepedesan. Hehe. Mungkin dia terlalu khusyuk nguleknya, merhatiin dari deket.

image

Nasi goreng hasil karya salah satu kelompok

Dua jam berlalu, akhirnya mulailah sesi penilaian. Oh ternyata dilombakan. Sample nasi goreng tiap kelompok dites oleh kami bertiga. Lalu kami sepakat satu piring itu sebagai pemenang. Ternyata, itu kelompok bunda. Si aki itu langsung girang lompat-lompat. Dia akhirnya membuka rahasia bahwa dia pernah tinggal 3 tahun di dekat Indramayu (lupa nama daetah persisnya). “Jadi saya bisa membedakan rasa nasi goreng”. Haha, pantesan..

image

Ojiisan yang pernah tinggal di Indramayu, so humble

image

Snapshoot photo session

 

Wrapping the event, kita foto bareng. Lagi, kita ga punya fotonya. Ayah sempat snapshot sedikit sebelum diminta duduk untuk difoto juga. Cuma dua ini deh foto yang kita punya. Akhir acara ditutup dengan nyanyian Jepang yang dibawakan oleh Awhi, ditunjuk mendadak sama Yoni. Walaupun minus one, peserta makin happy, mereka nyanyi bersama seraya melambaikan tangan. Setelah acara akhirnya benar-benar selesai, ada seorang peserta yang masih penasaran sama ulekan, dia datangi kita dan nanya-nanya tentang ulekan, hehe. Ada juga ninik yang bisa bahasa Inggris mendatangi kami, dia bahkan memberikan kartu nama dan mengundang kami untuk mengunjungi bar yang dia miliki. Sudah puluhan tahun bar nya berdiri, namun 2 tahun lalu baru direnovasi karena terbakarketika restoran ramen di sebelahnya kebakaran.

 

Well, alhamdulillah dapat pengalaman masak dan berinteraksi dengan nihongjin lagi. Kali ini bunda lebih pede ngomong nihonggo karena rutin belajar sama Sasaki sensei, hehe. Walau masih terbata-bata sih.. Mudah-mudahan jadi kenangan indah buat Kaka juga, dan pengalaman berkesan untuk pesertanya. Alhamdulillah ala kulli hal.

Iklan

2 thoughts on “Another Indonesian Cooking Class

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s