Alat Tempur di Dapur

Sambil menunggu my code running di atas matlab, bunda mau ngeblog dulu ah. Kali ini kepikiran untuk menyimpan kenangan tentang perjuangan di dapur selama di Jepang. Bunda sebut perjuangan, karena awalnya bunda yang dari ga bisa masak, kalau males tinggal beli, setelah di jepang jadi struggling belajar masak sendiri. Setiap perempuan mungkin pernah yaa mengalami masa-masa ini, entah sebelum menikah atau setelah menikah. Beruntunglah yang sudah menemukan passion memasak ketika masih gadis, jadi setelah ada suami ga perlu trial ‘n error lagi. Ya walaupun dibilang sampai sekarang sih masak bukan menjadi passion, tapi karena kebutuhan, hehe.

Kalau baking, masih ada ketertarikannya sedikit, walau bukan passion juga. Karena menurut bunda baking itu lebih bermain teknik, kalau cooking lebih ke feeling dan art. Tapi karena jiwa art bunda juga tipiiiis banget, jadinya baking pun hasilnya ga ada seni seninya, yang penting jadi dan enak, wkwkwk, anak teknik banget nih. Nah apalagi masak kan, yang penuh feeling dan kirologi. Bandingin aja kalau kita baking ngikutin resep step by step (kecuali bagian ornamen atau yang sifatnya penghias), hasilnya insyaAllah sama. Tapi kalau masak, ngikutin resep belum tentu hasilnya sama. Makanya bunda kagum sama ibu ibu senior (kalau tak dibilang jaman dulu) yang resepnya itu kirologi, tapi aneka bumbu dapur masuk, ga simpel simpel. Beda orang katanya beda hasil. Belum lagi faktor beda wajan dan panasnya api. Seringkali mempengaruhi cita rasa juga. Sampai terakhir pulang ke Bogor kemarin, bunda bela belain bawa penggorengan cekung di bagasi, hohoho.

Ups, hasil running code bunda out of memory! Sudahlah ditinggal dulu aja, refreshing, hehe. Bunda mau nyimpen foto foto ini semoga jadi memori indah di Jepang saat nanti kita menetap di Indonesia kembali. Yang ga kalah penting, betapa murahnya home appliances dapat kita peroleh di Jepang, terutama untuk elektronik dapur.

 

Dari rak pertama, ada oven microwave dan airfryer (kalau di Jepang lebih terkenal dengan istilah non-oil fryer). Oven microwave merk National ini harta warisan turun temurun dari pendahulu mahasiswa INA di Kitakyushu. Sanadnya, bunda dikasih dari Mba Dian Azwar, sebelumnya milik Bu Peny, dan beliau ini juga diwariskan dari pendahulunya. Walau turun temurun, tapi performanya masih bagus. Dari namanya bisa ditebak, alat ini bisa dipakai sebagai oven maupun microwave. Kalau di toko recycle, harganya di atas 8,000 yen, seringnya di atas 1 man (+/- 1jutaan). Alhamdulillah ya bunda dapat gratis, rejeki Kaka, hehe. Fungsi yang paling sering dipakai sih yang microwave, terutama untuk menghangatkan kembali makanan, susu, defrost daging beku, dll. Karena, dia menggantikan microwave bunda yang diturunkan ke mahasiswi baru Kitakyudai dari INA. Tapi, ukuran ruangannya lebih kecil, jadi kalau mau defrost seplastik ayam 2kg, harus dipisah dulu. Kalau di microwave yang dulu, bisa langsung aja. Kadang fungsi oven juga dipakai juga untuk baking, terutama kalau lagi baking dalam jumlah besar, menemani oven kecil seniornya.

Nah yang kedua airfryer merk Wagonse. Airfryer ini salah satu perangkat idaman, karena hemat minyak dan multifungsi. Bisa untuk baking, grill, frying. Bunda paling sering buat masak nugget, sosis, manggang atau goreng ikan, ayam, fried chicken, french fries, manggang sate. Ini semua ga pake minyak. Bahkan kerupuk pun juga bisa lho, tapi ga ngembang, cuma mateng dan garing banget, ga cucok sih, hehe. Karena wadahnya bolong bolong seperti saringan (supaya tekanan bisa dari segala arah), jadi untuk yang ada adonan basahnya seperti pisang goreng atau bakwan, mesti dialasi alumunium foil dulu, dan ada proses dibalik supaya matang merata. Sedangkan untuk yang berkulit seperti lumpia, martabak, dan sejenisnya, perlu dioles minyak dulu supaya garing dan warnanya tidak pucat. Wagonse ini merk china, harga lebih terjangkau dari Philips pesohor airfryer itu. Bunda beli di toko reuse depan rumah, hanya 3,800 yen saja (400ribu rupiah), second masih baru. Di Jepang, memang banyak produk China, dari peralatan dapur, elektronik, sampai mainan anak dan baju. Tapi katanya quality passed disini jauh di atas di INA, jadi bisa dibilang, kualitas atasnya China. So far performanya oke. Jadi andalan banget karena bisa ditinggal. Hanya perlu setting suhu (hingga 210 c) dan waktu (timer hingga 30 menit). Listriknya lumayan, 1200 watt, tapi karena seringnya diset 10 menit walau suhu maksimal, ga terlalu pengaruh sama tagihan listrik. Wajar kan ya, kalau airfryer ini jadi salah satu alat tempur dapur yang mau dibawa balik ke INA, kalau bisa. Sayangnya, voltasenya standard Jepang, 100V, jadi perlu step down kalau dipake di INA.

 

image

Oven pertama bunda

Di rak kedua, selain peralatan bentou (kotak makan) sehari-hari, ada oven kecil yang jadi elektronik dapur pertama yang bunda beli di Jepang (setelah kulkas). Dia jadi saksi suka duka bunda belajar baking. Walaupun jenisnya oven toaster, dia bisa berfungsi seperti oven listrik biasa yang bukan hanya untuk manggang roti, tetapi juga bisa untuk baking. Oven digital ini punya menu baking cake, roti, cookie, pizza dan gratin, yang tertulis di pilihan menu dan di stiker di bawah kaca. Bedanya dengan oven listrik lain, dia cuma punya api atas, dan karena letaknya hanya sebatang logam panas di atas, jadinya warna kecoklatan hasil manggang kurang merata. Biasanya bunda akali dengan menutup bagian atas wadah dengan kertas alumunium foil setelah adonan tidak basah (sudah mulai matang). Karena 1,5 tahun pertama bunda baking pakai oven ini, jadi sudah hapal dengan settingan suhu dan timernya. Bunda cinta banget sama oven ini, walau sekarang frekuensi pakainya berkurang, mungkin karena penuh kenangan, hehe. Bunda beli oven ini di toko recycle dekat sekolah Kaka, yang sekarang sudah tutup, hiks. Saat dibeli, kondisinya masih bagus dan kinclong, ga ada bekas panggangan, karena kata penjualnya ini barang baru belum dipakai. Yang bikin bunda naksir, karena kecil dan multifungsi, merknya juga Zojirushi, merk Jepang terkenal bagus dan mahal untuk peralatan dapur. Bunda masih ingat, dulu dibeli seharga 2,500 yen (270ribu rupiah), sedangkan di toko elektronik harganya 8,000 yen. Malah di amazon dijual seharga 200-an dollar. Alhamdulillah ala kulli hal.

 

20160124_125025.jpg

Di rak ketiga

Turun ke bawah, di rak ketiga ada alat alat tempur yang lebih kecil. Walau kecil, tapi frekuensi pemakaiannya sering, andalan bunda deh. Ada blender, timbangan, food processor dan mixer. Blender dipakai untuk bikin jus, smoothie, lassi dan pengganti ngulek bumbu dalam jumlah banyak, dan bikin sambel. Mixer udah pasti yaa untuk bikin kue. Ini mixer sejuta umat ibu-ibu PKK disini, karena harganya 990 yen (100ribu rupiah). Alhamdulillah sampai sekarang masih awet, walaupun penggunaannya ga boleh lebih lama dari 7 menit berturut-turut, mesti dikasih jeda 2 menit sebelum dipakai kembali. Timbangan digital, ini juga dipake banget, untuk menakar bahan (yang lama kalau ditakar pake sendok satu per satu) dan menakar daging sebelum dipisahkan untuk dibekukan. Timbangan digital ini juga dibeli ketika nemu yang murah (pokoknya baru mau beli kalau nemu yang murah, hehe dasar emak emak irit). Biasanya harga yang digital di atas 900 yen (100 ribu rupiah), alhamdulillah di RUMIERU nemu yang 498 yen saja. Untuk hal menemukan yang murah murah, saya meneladani Bu Imam, harus rajin silaturahmi ke toko toko, hahaha.. walau suami tidak mudah dibujuk untuk melancarkan misi tsb (ups).  Nah yang paling kanan itu foodprocessor, dengan 3 mata pisau, bisa untuk mince daging-dagingan, iris halus sayuran seperti wortel, dan fungsi parut. Bunda paing sering operasikan untuk mince daging, terutama ikan untuk bikin pempek, siomay, batagor, tekwan maupun sekedar perkedel. Fungsi iris sayuran juga lumayan menghemat waktu, terutama untuk bikin tahu isi dalam jumah besar. Biasanya kalau untuk konsumsi sendiri tinggal parut manual aja pakai tangan, karena wortelnya sedikit. Tapi untuk acara makan-makan, mesti ngeluarin ini deh biar cepet. FP ini jadi salah satu alat tempur yang paling sering dipakai karena masakan bunda sering yang model campur-campur daging/ayam/ikan dengan bahan lain. Kalau beli ayam/daging minced harganya lumayan banget. Pakai FP jadi lebih hemat, walau kalau lagi beroperasi pagi-pagi suaranya cetar menggelegar, hehehe.

 

image

Breadmaker/ home bakery

Di rak keempat, paling bawah tersusun (agak) rapi panci-panci, cetakan, wajan dan breadmaker. Akhir tahun 2014 lalu, kebetulan melihat sale elektronik dapur di TRIAL, salah satunya BM ini. Ada tiga merk BM ketika itu, tapi bunda pilih ini karena modenya paling banyak, ada 12, tetapi ternyata ukurannya hanya 1.2 loaf (ternyata 2 loaf juga kegedean, gaenak). Sampai sekarang bunda gabisa baca apa merknya, karena dalam kanji, hehe. Harganya alhamdulillah 2,498 yen saja (270ribu rupiah). Selain airfryer, BM ini juga jadi salah satu elektronik dapur idaman dan pengen diboyong pulang, karena katanya hasil ngulennya bagus, untuk roti dan adonan bakso. Sayangnya, tegangannya juga 100 V (memang semua elektronik dapur di Jepang 100 V ternyata, walau masih berharap ada yang cover 220 V juga). Selain untuk ngulen, tentunya BM ini bisa untuk baking roti tawar langsung di tempat. Tapi paling sering bunda operasikan untuk ngulen bakso dan roti. Baking kue juga bisa disini. Bunda pernah baking lemon cake dan butter mochi disini. Resep-resep yang bisa menggunakan BM dapat dilihat di webnya Zojirushi, biasanya bunda nyontek disitu.

Selain elektronik dapur ini, masih banyak alat tempur dapur yang lain yang pasti juga jadi andalan ibu-ibu. Kompor tentunya (yaa iyalah), dimana uniknya kompor disini itu pakai listrik (batere), ada panggangannya di bawah (di antara knop pengatur api) dan bisa mati sendiri kalau kepanasan (misal kalau yang diatas wajan sudah kering air/minyaknya). Yang kecil-kecil, selain pisau, talenan, dan ulekan, ada satu lagi yang bunda bagai tidak bisa masak tanpanya: spatula silikon! Yup, alat ini canggih banget buat mencegah kemubaziran dari adonan dan tetesan tetesan yang masih tersisa di wadah. Multifungsi juga, karena bahannya silikon, jadi bisa untuk pengganti sodet tanpa merusak wajan. Pernah suatu hari spatula bunda patah. Duh rasanya pas masak tuh ada yang kurang, ngeliat wadah belum bersih total tak tersapu spatula (tsaaahh…). Akhirnya nyari lagi deh di Daiso, hanya dengan modal 108 yen (12ribu rupiah). Pernah juga beli spatulanya Ikea, keren motifnya. Tapi ternyata lebih tebal (jadinya kurang luwes) dan patah juga (hehe ini mah bundanya aja yang pake tenaga dalem). Last but not least, bunda juga suka banget sama penghancur bawang putih, karena bawang putih ini seringnya dikeprek aja atau dicincang halus lebih meresap daripada diulek. Waktu itu nemu di Daiso Chacha Town, 108 yen juga. Cuma terakhir dipinjam anak PPI, patah murnya. Tiap ke Daiso bunda cari tapi belum ketemu. Entah apa itu cuma ada di Daiso Chacha Town. Yaa semoga next time ketemu lagi.

garlic

Ninniku tsubushi (garlic crushed)

Well, gimana denganmu? Apa alat tempur dapur andalanmu? 🙂

 

 

Iklan

4 thoughts on “Alat Tempur di Dapur

    • Alhamdulillah satu per satu nemu yg terjangkau..demi membuat makanan/minuman2 yg ga bs dimakan di luar sana, hehe.. Standard tegangan yg diprovide PLN nya tiap negara beda2 za. Biasanya di tiap elektronik itu ada tulisannya, misal INPUT : 100 – 240 V (seperti di charger laptop atau hp), itu berarti dia bs beroperasi pd tegangan “PLN” 220 V, bs juga dipake di Jepang yg providernya 110 V. Tapi kalo elektronik dapur biasanya rangenya sempit, cuma di 100 an V aja atau 200 an V aja. Nah step down utk nurunin tegangan, jd listrik PLN diturunin dr 240 jd 110 misalnya. Kyk pelajaran SMA ttg trafo, hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s