Ceracau suatu siang di lab

Indeed, in this lab my mathematics skill is challenged after a long time being hibernate by non-math research, job desc and of course giving birth and raising a kid! Kadang saya berpikir kok yaa takdir saya dipertemukan dengan matematik lagi… Memang sih saya suka matematik, tapi mbok yaa yang dipelajari coba keep on the track gitu lho…*ngomong sama diri sendiri*. At least saya masih ada ketertarikan, jadi masih ada willingness untuk belajar, hehe.

Matematik kan amat sangat luas yaa, matematika teknik aja luas banget… Lalu pikiran saya melayang ke ingatan-ingatan ketika kuliah matematika teknik, matematika lanjut, aljabar linear, digital signal processing, image processing…*ini pikiran lagi loncat-loncat banget deh, random, maaf yaa yang baca* . Dan akhirnya sampai pada kesimpulan, terjadi pada saya apa yang pernah dirasakan si suam (baca: suami, ceritanya lagi ketuleran Distro di film 7 hari 24 jam), ketika bergulat dengan researchnya di Taiwan, yang katanya lebih berat daripada di Jepang itu. Iya, ngerasa bahwa yang dulu dipelajari kok yaa cuma berapa persen yang kepake disini…

Lalu saya membayangkan, coba yaa dari SMP kita udah bisa milih kelas, seperti di kuliah. Setidaknya pas kelas 6 SD itu saya sudah tau minat saya dimana, dan alhamdulillah long lasting sampai sekarang. Jadi saya bayangin betapa efektifnya saya kalau sejak SMP itu cuma pelajari apa yang saya minati. Tapi apa yang saya jalani… Pas kuliah S1 aja dengan kurikulum jaman saya itu, mata kuliahnya udah paketan, hanya semester-semester akhir baru bisa milih (Alhamdulillah sekarang sudah berubah). Alasannya, supaya lulusannya bisa bekerja dimana saja, ga spesifik di satu peminatan. Tapi kelemahannya ya jadi ga mendalam, atas-atasnya aja. Dan itu ya, bahkan, sampai tingkat 4 pun saya masih harus ngambil teknik kendali yang mana bukan minat saya, terlebih lagi saat itu mahasiswa sudah mulai seminar-skripsi sesuai peminatannya. Berat hati banget ga sih ngambil kuliah di luar minat kita.. Padahal sehari-hari yang dipikirin cuma image processing (sama organisasi sih waktu itu..). Yaa coba itu kuliah diganti sama kuliah optimization (tsaaah gayaaaa…baru juga kenalan di Jepang), atau kuliah image processingnya diperdalam, atau kuliah menulis paper juga boleh…

Bayangin kalo SMP kita udah bisa milih minat kita, dan itu terus diperdalam sampai at least kuliah, manusia yang tercetak adalah SDM yang punya at least 1 specific expertise yang kuat. Seperti teman PhD saya di samping meja, dia dari SMA udah ambil SMA kejuruan IT, lalu dari S1 lanjut S2 sampai sekarang S3 dia udah on one track, image processing. Jadi sekarang dia udah expert banget. Lalu saya merasalah secara the facto jadi mahasiswa B4 (bachelor tingkat 4) kalau dibanding dia.. huhu..

Salah satu PhD student dari Indonesia yang bidangnya mirip saya, juga pernah bilang bahwa kesulitannya adalah menjembatani pengetahuan matematiknya dengan programming skill yang dia punya. Maksudnya, kebanyakan kita bisa matematik, bisa programming, tapi keduanya berdiri sendiri, how to bridging the gap is the main weakness. Ini matematiknya bukan sekedar matematik logika lho… tapi you name it lah formula-formula matematik yang punya nama, yang jelas siapa yang mempropose, dan yang bisa dicite di paper-paper.. Jadi PR nya adalah, gimana matematik yang selama ini dipelajari di undergraduate, bisa melatih mahasiswa untuk menggunakannya dalam memecahkan research question. Susah memang yaa jadi orang pendidikan itu, gimana merancang kurikulum, gimana menyusun perkuliahan, dan mengevaluasi output pengajaran dan pembelajaran. PR banget!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s