Japanese Tea Ceremony

image

Japanese Tea Ceremony @ Mitsusada Shimin Senta

Hari ini Nihonggo Class diisi dengan kegiatan Tea Ceremony. Dengan persiapan terbatas (baju ala kadarnya dan lupa total kalau minggu lalu sudah disampaikan akan ada tea ceremony), Bunda bersama Bu Cipta dan Mba Tri memasuki ruang ceremony. Sebelum masuk, kami diminta untuk menanggalkan coat, jaket dan tas, begitu manner-nya. Memang, Tea Ceremony yang biasa disebut Chanoyu, Sado atau Ocha, merupakan sekumpulan ritual koreografi dalam membuat, menyajikan dan juga menerima dan meminum green khas Jepang, alias Matcha.

Acara diawali dengan penjelasan dari host mengenai Ceremony ini. Keseluruhan Tea Ceremony bukan sekedar koreografi, tetapi juga mengangkat nilai keindahan, bagaimana menyajikan teh dari hati (tsaahhh…). Awalnya sempat ragu karena khawatir ada pecampuran dengan ritual agama tertentu, tetapi setelah cari tau, insyaAllah prosesnya tidak ada doa-doa atau ritual peribadatan selain ritual pembuatan dan penyajian teh dengan manner. Setelah itu Ceremony dimulai. Seorang wanita paruh baya terlihat sedang menyiapkan peralatan di dekat tungku air panas (Furo). Peralatan seperti Chashaku (centing teh) diseka dengan sapu tangan berwarna jingga yang disebut Fukusa. Matcha powder kemudian ditabur ke dalam Chawan (mangkuk teh) dan kemudian ditambah air panas dari Kama (kettle air panas dari tungku).

Setelah itu, sejumlah wanita masuk ke ruang ceremony membawa sweets beralas kain linen putih yang disebut Chakin. Sweets terdiri dari dua jenis kudapan manis, yang terbuat dari tepung beras manis (mochiko) dan gula. Sweets ini harus dimakan dalam satu kali santap (masuk mulut), karena bagian dari manner. Chakin lalu disimpan setiap peserta untuk seka mangkuk teh nantinya. Tidak lama kemudian, matcha disajikan satu per satu. Saat proses serah terima matcha, penyaji dan peserta saling membungkuk dalam posisi duduk belutut. Semangkuk matcha disajikan berserta nampan dan whisker/pengaduk, yang disebut dengan Chasen. Saat menyerahkan matcha, penyaji memutar mangkuk teh dua kali, hingga posisi gambar pada mangkuk yang sebelumnya menghadap penyaji, menjadi menghadap peserta. Begitu pula dengan peserta, sesaat setelah menerima matcha, langsung memutar mangkuk dua kali hingga gambar menghadap depan.

Sebelum meminum matcha yang panas ini, peserta harus mengaduknya terlebih dahulu menggunakan Chasen. Chasen bentuknya seperti sapu taman mini. Saat mengaduk, tangan mengocok-ngocok up and down dengan cepat menggunakan tiga jari, yaitu ibu jari, telunjuk dan jari tengah. Gerakan ini bertitik tumpu pada pergelangan tangan sebagai porosnya, jadi lengan tidak ikut bergerak. Setelah itu, gerakan mengaduk memutar membentuk hiragana no. Terakhir, saatnya meminum matcha dengan manner: sekali habis dan harus bunyi sluuurrppp! Setelah matcha habis, pinggiran mangkuk diseka menggunakan Chakin yang diterima sebelumnya. Penyaji kemudian datang untuk mengambil kembali nampan matcha, mannernya sama seperti proses serah terima matcha tadi, sambil mengatakan oishiikata desu!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s