Tinggal di Apato

Untuk warga di Jepang yang belum memiliki rumah, kemungkinannya dapat tinggal di Apato, Mansion atau Danchi. Apato dalam bahasa saya adalah sebuah rumah petak, atau lebih cakep lagi bahasanya: apartemen tingkat dua saja. Saya sebut rumah petak, karena mungkin kalau di Indonesia mirip rumah kontrakan petakan, hanya bedanya pilihan luas Apato bisa hingga 72 m2 (belum cari tau kalau ada yang lebih luas lagi). Bentuknya lebih terlihat rumah, karena atapnya seperti rumah yang lain, bayangkan saja seperti rumah luas dua tingkat yang dibagi-bagi menjadi beberapa rumah petak dengan tipe yang sama. Yang kedua adalah Mansion, apartemen bertingkat yang lebih dari empat lantai. Karena itu, biasanya dilengkapi dengan lift. Mungkin kalau di Indonesia bisa disamakan dengan apartemen. Yang ketiga adalah Danchi. Danchi adalah apartemen milik pemerintah yang disewakan untuk warga yang dianggap kurang mampu. Harga yang ditawarkan sangat murah jika dibandingkan Mansion maupun Apato, kisaran 1 – 2 man (1 – 2 juta), sedangkan untuk ukuran yang sama, Apato bisa lebih mahal 3 – 5 man di atasnya, dan Mansion bisa lebih mahal lagi. Karena itu, banyak warga yang ingin apply Danchi, tidak terkecuali warga negara asing seperti kami yang pemasukan tetapnya hanya dari beasiswa.

Dimana kami tinggal? Yup, sesuai judul, kami tinggal di sebuah Apato. Ayah memilih Apato ini sebelum Bunda dan Kaka menyusul. Pertimbangannya, karena lebih dekat ke kampus (jalan kaki 10 menit) dan strategis dengan jalur bus dan pertokoan. Walaupun lebih mahal dari Danchi, Alhamdulillah Ayah mendapatkan support tunjangan tempat tinggal dari beasiswa Hitachi dengan batas maksimum tertentu. Apato kami terdiri dari 3 ruang utama: ruang tamu, ruang tidur dan ruang makan including dapur. Ruang tidur ini yang paling luas dan strategis, jadi segala kegiatan kami secara refleks dilakukan di ruangan ini. Beralaskan 6 petak tatami, kami tidur, main, belajar, nonton, makan, lipat-setrika pakaian, semuaaaa di sini.

Apato ini terdiri dari 10 pintu yang terbagi ke dalam dua lantai. Awalnya berharap para tetangga orang-orang yang ramah, ternyata tidak semua. Mayoritas individualis. Apalagi tetangga di bawah persis, belum pernah terlihat senyum kalau disapa. Pernah kami mengetuk pintunya untuk meminta maaf karena mainan Kaka jatuh, beserta sobekan kertas. Duh ga enak banget… Mungkin karena kami juga pake bahasa Inggris, sedangkan mereka jawab dengan bahasa Jepang. Kok mimiknya dingin tidak seperti kebanyakan orang tua Jepang yang ramah menyapa kami di tempat umum (terutama karena bawa Kaka). Tetangga kami ini masih muda sih, sepasang suami istri, sepertinya belum punya anak. Mungkin karena masih muda jadi lebih cuek ya. Entahlah… Tapi bulan-bulan pertama tinggal di Jepang rasanya seperti tinggal di hutan, ga ada teman bicara… Hanya gadget cara andalan untuk menjaga kewarasan.. (lebay)

Mengenai perawatan fasilitas Apato, pihak Fudosan (Agen) menyewa jasa cleaning service, jadi kami bebas dari kerja bakti mingguan yang biasa ada di Danchi. Hanya saja kami mendapat jadwal piket membersihkan bak sampah. Ember, sikat, sabun dan jadwal piket akan sampai di depan pintu ketika jadwal piket kita segera tiba. Seru juga ya.

Kalau ada rejeki, kami ingin mencari Apato yang lebih dekat dengan kampus, kalau bisa jalan kaki ga sampai 5 menit saja. Selain itu, kami ingin mencari Apato dengan arsitektur ruangan yang lebih efisien. Ruang tamu kami yang sekarang jarang sekali kami pakai, bahkan jarang kami buka pintunya. Karena jauh dari seluruh ruang yang lain, jauh dari tempat-tempat kami beraktivitas sehari-hari. Sayang aja jadi mubazir. Jadi sebenarnya luas Apato kita hanya terpakai 3/4 nya. Untuk pindah, kami harus menyiapkan dana untuk deposit Apato yang baru, yang jumlahnya belasan hingga dua puluhan man, dan tidak ditanggung beasiswa, Mudah-mudah ada rejeki dan kesempatan untuk pindah di tempat yang lebih baik.

Apato kami di lantai dua

Apato kami di lantai dua

Depann

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s