LDM Kami yang Kedua (part 1)

22 September – 13 Oktober 2013
Tiga minggu pertama LDM (Long Distance Marriage) ayah-bunda yang kedua kalinya. Kali ini berbeda karena sudah ada si bocah kecil lucu (bocillucu), Kaka. Prediksi kami mungkin akan lebih berat dari LDM Depok – Taipei saat kami masih berdua dulu. Well, apa yang mau ditulis sebenarnya lebih banyak dari yang nanti tertulis disini, karena terlalu banyak dan terlalu terbatas kemampuan bunda menulis seperti ini. Karena terlalu banyak, bunda coba tulis dari awal sekali. Di tulisan kali ini, bunda akan cerita awal bagaimana LDM ini akhirnya terjadi lagi (haiyaaaahh…).
Fase ini sebenarnya bukanlah fase yang kami harapkan pun rencanakan di dalam pernikahan kami. Cukuplah sekali LDM di awal pernikahan. Dan itu semua karena tugas belajar. Karena kami berprofesi sama, tempat kerja sama, dan tuntutan sekolah yang sama, sekilas akan terkesan amat mudah untuk merencanakan dan menjalankan S3 di tempat yang sama dan di waktu yang sama pula. Tapi takdir Allah berkata lain. Skenario Allah tentang hal ini dimulai tahun 2011, sebelum kami merencanakan untuk memiliki anak, bahkan sebelum ayah selesai S2 di Taipei, kami sudah melamar S3 ke Jerman, dengan skema beasiswa debt swap dikti, yang mana peluangnya sangat besar. Bahkan manajer yang membawahi kerja sama ini memberikan statement yang di atas angin. Dan ternyata skema beasiswa tsb berkerja sama lagi dengan DAAD di akhir proses, dan kami gagal di proses akhir tsb karena Professor ayah request 4 tahun minimal, sedangkan beasiswa hanya menerima yang 3 tahun maksimal.
Selanjutnya, ikhtiar PhD bareng kami lanjutkan. Kali ini kami melirik kembali Jepang, karena requirement long time study yang lama di Jerman membuat kami mengurungkan niat kesana. Apply meng-apply dilakukan di awal 2012, dimana bunda saat itu sedang mengandung Kaka di trimester 2 sampai 8 bulan. Bunda masih ingat bagaimana bunda meminta pendapat ayah untuk memilih pakaian untuk interview, mengakali supaya tidak terlalu terlihat kalau sedang mengandung (kala itu sudah 8 bulan). Bukan tidak menerima keadaan (maaf ya Kaka..^^), tapi kami menghindari pertanyaan yang mungkin akan menjebak dengan kehamilan ini. Saat itu kami berencana sbb: bunda melamar double degree Chiba – UI untuk berangkat tahun 2013. Kemudian ayah akan apply beasiswa untuk berangkat tengah 2013. Sehingga tengah 2012 bunda memulai PhD di UI untuk setahun pertama. Dan sekali lagi Allah berencana lain, sesi interview yang mestinya menegangkan malah menjadi mengasyikan, karena interviewer bilang bahwa bunda harusnya melamar di 2013 (BU LN DIKTI), bukan 2012 saat itu. Jadilah sesi itu menjadi sesi tips n trick melamar BU LN DIKTI tahun depan. Oke, setelah itu ayah bunda lebih fokus untuk kerja dan menyiapkan kelahiran Kaka. Dan memulai pencarian beasiswa di tahun 2013, rencananya bukan DD program lagi, sekalian aja full degree bareng-bareng.

Kala tahun 2013 itu datang, ayah sudah berproses dengan beasiswa Hitachi. Ayah telah mengkontak beberapa professor di beberapa Uni di Tokyo. Kenapa Tokyo? Karena bunda sudah sangat yakin ingin di Chiba, sedangkan untuk bidang ilmu ayah yang paling dekat adanya di Tokyo. Untuk masalah bidang ilmu, kami memang sama-sama idealis, ayah di RFIC dan bunda Remote Sensing. Bidang yang sama-sama langka, dan sama-sama susah dicari. Jadilah Ayah memajukan LoA dari Profesor Waseda, Tokyo. Takdir Allah berkata lain ketika proses sudah sampai akhir, ayah baru ngeh kalau professor yang menerima ayah, kampusnya bukan Waseda yang di Tokyo, melainkan di Kitakyushu, Fukuoka. Langsung kami mengecek ke TKP di googlemap, dan ternyataaaaa..jauh di ujung berung, eh ujung selatan. Bunda yang tadinya mau meneruskan rencana di tahun 2013 untuk ke Chiba, jadinya menarik kembali. Kami harus pertimbangkan matang-matang apakah benar akan menempuh jarak Chiba-Kitakyushu yang jauhnya tidak kalah dengan Jakarta-Bali. Sehebat-hebatnya transportasi di Jepang, tetap saja tantangannya adalah fisik dan materi (cintaku mahal di ongkos).

Dan sekarang bunda masih mempertimbangkan berbagai opsi untuk menyusul ayah disana. Rasanya tak perlu bunda tuliskan satu satu. Yang jelas, apapun keputusan yang akan bunda (kami) ambil nanti, mungkin tidak bisa menyenangkan semua pihak yang menjadi ‘stakeholder’ kami. Tapi satu stakeholder yang tidak boleh kecewa, yaitu Pencipta kami, Allah SWT. InsyaAllah… Semoga kami dapat mempersembahkan yang terbaik dalam hidup kami untuk Allah.

Bogor,
13 Oktober 2013
Menunggu Kaka bangun tidur dalam demamnya
~bundakaka~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s