Mendisiplinkan Anak Secara Positif

Dikutip langsung dari : http://bintangwaktu.wordpress.com/tag/anna-surti-nina/

Siapa yang seumur hidupnya tidak pernah memarahi anaknya?Rasanya hampir tidak mungkin. Keluhan orang tua pada umumnya, anak mereka tidak menurut dan susah diatur. Rasa marah muncul akibat ketidaktahuan orang tua dalam “menguasai” anaknya. Bagaimana cara membuat anak disiplin tanpa membuat orang tua marah-marah?

Menurut Anna Surti Ariani, psikolog dari Klinik Terpadu Fakultas Psikologi UI dan Medicare Clinic Kuningan ini, idealnya orang tua memiliki pendekatan yang hangat, dekat dan penuh kasih saying, tapi juga bias tegas ketika mengatur. Aturan dibuat dengan kesepakatan bersama anak, bukan atas otoritas pribadi orang tua

Bagaimana cara mendisiplinkan anak yang membuat anak menurut tanpa menghilangkan harga diri anak?

  1. Perhatian positif (pujian)
  2. Pengabaian
  3. Kerja sama
  4. Tegaskan Batas
  5. Hukuman

Dari kelima teknik tersebut gunakan Teknik Perhatian Positif (Pujian) sebagai teknik yang paling sering dilakukan, dan gunakan Teknik Hukuman sebagai teknik yang paling jarang dilakukan

1. Perhatian positif (pujian)

Lakukan sesegera mungkin ketika anak melakukan sesuatu hal yang positif, termasuk hal yang sekecil mungkin.Bentuknya bisa berupa “pengumuman ke penjuru dunia”, hadiah kecil atau token system (good behavior chart).Hal yang penting ketika melakukan ini adalah orang tua melakukan kontak mata dengan anak, menunjukka ekspresi yang menyenangkan dan intonasi suara yang ramah. Pujilah tindakannya, bukan anaknya

2. Pengabaian

Hal ini bisa dilakukan untk perilaku anak yang kurang orang tua setujui tapi masih bisa ditoleransi.Teknik ini hanya bisa berhasil bila diikuti pujian segera ketika anak melakukan hal baik. Pastikan orang tua melakukannya segera setelah anak melakukan perilaku tersebut, tidak melakukan kontak mata, ekspresi wajah yang datar, tidak mengeluarkan kata-kata dan posisi tubuh tidak menuju ke anak

Bentuk lain dari pengabaian ini adalah orang tua melakukan hal lain ketika anak sedang bertingkah, berbicara hal lain ketika anak sedan g bertingkah atau teknik broken record

Metode broken record ini cocok untuk anak berusia 2-2,5 tahun tapi tidak untuk yang berusia 4-5 tahun ke atas. Caranya adalah mengulangi kata-kata yang sama berkali-kali sampai ia menurut apa yang kita kehendaki. Kuncinya adalah ekspresi yang datar dan kata-kata yang sama. Misalnya menyuruh anak mandi, “Nak, mandi nak…” bila ia bilang tidak mau, terus kata-kata “Nak, mandi nak…” diulang berkali-kali sampai akhirnya anak menyerah untuk bergerak masuk ke kamar mandi. Tetapi ada kemungkinan anak melakukannya dengan kesal

3. Kerja sama

Teknik ini dapat diterapkan pada anak usia 3-4 tahun ke atas ketika anak sudah mulai belajar untuk berpikir logis. Targetnya adalah melakukan kesepakatan dengan anak, dimana keputusan dibuat oleh anak dengan sedikit negosiasi dari orang tua.

Bentuknya antara lain sebagai berikut:

  • Berikan pilihan yang sudah orang tua seleksi sebelumnya. Misalnya “Adek mau pake baju yang mana, yang merah atau yang biru” sambil menunjukkan kedua baju tersebut. Cara ini selain membuat anak disiplin, sekaligus melatih anak untuk mengambil keputusan sendiri. Anak yang sudah dapat membuat keputusan sendiri, cenderung tidak akan melanggarnya
  • Teknik Berhitung. Misalnya, “Ayo mainnya bergantian, nanti kalau mama hitung sampe 5, abang tukeran sama adek ya.” Teknik ini sekaligus melatih kepekaan anak terhadap angka. Biasanya semakin besar anak, maka anak akan menawar angka yang lebih besar, seperti 10, 34, 46 dst J
  • Teknik Jam Dinding. Misalnya, “Abang boleh main game sampe jarum panjang di angka 12 ya.” Anak belum mengenal hal yang abstrak, sehingga jangan gunakan kata-kata “5 menit lagi ya.” Jangan lupa gunakan jam dinding/arloji dengan jarum jam, bukan digital. Akan lebih mudah bagi anak untuk mengkalkulasi waktu
  • Teknik Kalender. Misalnya, “Nanti kalo sudah tanggal 17, botol dot-nya kita buang ya.” Hal ini berlaku kepada anak yang sudah bisa membaca angka. Caranya anak diajak untuk melihat kalender setiap hari, beberapa hari menjelang hari yang ditentukan. Untuk menentukan tanggal ini pun, anak dapat bernegosiasi. Biasanya anak akan lebih patuh dan mudah melaksanakannya pada hari H bila mereka sendiri yang menentukan tanggalnya
  • Jika A maka B. Misalnya “Kalau adek cepat mandinya, nanti kita bisa segera jalan-jalan” Gunakan kalimat positif untuk mendapatkan hal yang menarik ketimbang “Kalau adek mandinya lama, nanti kita lama deh kita gak bisa pergi. Otak manusia (baik dewasa, apalagi anak) cenderung tidak dapat menampung kata-kata negatif, sehingga pesan yang diterima oleh anak adalah ia harus mandi lama agar lama tingga di rumah
  • Buat perjanjian tertulis. Tentunya bagi anak yang sudah mengerti membaca. Akan lebih “keren” lagi bila perjanjian itu ditandatangani kedua belah pihak (minimal anak membubuhkan namanya di sana), sehingga anak merasa seperti layaknya orang dewasa
  • Good Behaviour Chart Chart dengan gambar dan warna yang lucu-lucu dapat anda download dari internet. Misalnya, “Kalau Aa bangun jam 7 tiap pagi, dapat 1 bintang. Kalau dapat 10 bintang, bisa Aa tukarkan dengan 1 buah mobil mainan.” Teknik ini sangat powerful, tetapi banyak juga yang menentangnya, termasuk diantaranya Maria Montessori. Menurut Montessori, teknik ini tak ubahnya menjadikan anak seperti seekor hewan sirkus yang mau melakukan sesuatu dengan iming-iming makanan. Dalam kasus di atas, anak akan kehilangan makna pentin gnya bangun pagi, melainkan hanya ingin mendapatkan mobil mainannya saja

4. Tegaskan Batas

Teknik ini dilakukan sesegera mungkin dengan melakukan kontak mata dan ekspresi wajah yang tegas, bukan marah.Gunakan kata-kata singkat dan padat, dengan intonasi yang tegas.Gunakan dengan kata perintah. Bila belum berhasil, gunakan perintah berulang (broken record), peringatan akan konsekuensi negatif (cabut haknya untuk bermain/menonton) atau time-out (disetrap maksimal 1 menit untuk tiap tahun usia anak, lakukan di tempat aman dan di tempat yang sama untuk setiap time-out).

Hati-hati bila melakukan time-out, jangan sampai anak merasa harga dirinya direndahkan

5. Hukuman

Lakukan sesedikit mungkin dalam hal ini.Menghukum dalam hal ini adalah mencabut haknya, dengan memberikan konsekuensi negative atas perlakuan negatifnya.Misalnya, “Kalau kakak pukul mama sekali lagi, nanti sore kakak tidak boleh nonton TV ya.”Bila anak melakukan, segera lakukan konsekuensi tersebut, bila anak menangis, gunakan teknik mengabaikan.

Dalam menghukum anak, orang tua tidak boleh menggunakan kata-kata negatif, marah apalagi hukuman fisik seperti memukul, mencubit dll

Penerapan kelima teknik tersebut di atas, tentunya bukan lah proses yang instan yang membuat anak langsung menerima. Perlu kesabaran dan konsistensi dari orang tua untuk membuat teknik-teknik ini berhasil.

Iklan

Pedoman Praktis Melatih Bayi dan Anak Berbicara

Dikutip langsung dari : http://www.idai.or.id/kesehatananak/artikel.asp?q=197541514289

Perkembangan berbicara bayi dan anak

  • Sekitar umur 7 – 8 bulan bayi mulai bisa bersuara satu suku kata, misalnya: ma atau pa atau ta, atau da
  • Sekitar umur 8 – 10 bulan bisa bersuara bersambung, misalnya : ma-ma-ma-ma, pa-pa-pa-pa, da-da-da-da-, ta-ta-ta-ta
  • Sekitar umur 11 – 13 bulan mulai bisa memanggil : mama !, papa !
  • Sekitar umur 13 – 15 bulan mulai bisa mengucapkan 1 kata, misal : mimik, minum, pipis
  • Sekitar umur 15 – 17 bulan mulai bisa mengucapkan 2 kata
  • Sekirtar umur 16 – 18 bulan mulai bisa mengucapkan 3 kata
  • Sekitar umur 19 – 22 bulan mulai bisa mengucapkan 6 kata
  • Sekitar umur 23 – 26 bulan mulai bisa menggabungkan beberapa kata : mimik cucu
  • Sekitar umur 24 – 28 bulan mulai bisa menyebutkan nama benda, gambar
  • Sekitar umur 26 – 35 bulan, bicaranya 50 % dapat dimengerti orang lain

(Sumber : Denver II, Frankenburg WK dkk, 1990)

Supaya tidak terlambat berbicara, latihlah sejak bayi

Bayi sejak lahir sudah bisa mendengar dan mengerti suara manusia, terutama suara ibunya. Walaupun bayi belum bisa menjawab dengan kata-kata tetapi bayi bisa menyatakan perasaannya dengan : senyuman, gerakan bibir, bersuara, berteriak, menggerakkan tangan kaki, kepala atau dengan menangis.

Dengan latihan setiap hari sejak bayi, lama kelamaan bayi dan anak dapat menjawab dengan kata-kata dan kalimat. Latihan ini sekaligus merangsang perkembangan emosi, sosial, dan perkembangan kecerdasannya.

Supaya bayi atau anak anda tidak terlambat berbicara, lakukan metode ini setiap hari, ketika anda berada tidak jauh dari bayi anda.

Melatih Bayi dan Anak Berbicara

I. Berbicaralah kepada bayi / anak sebanyak mungkin dan sesering mungkin, dengan penuh kasih sayang, walaupun ia belum bisa menjawab

  1. Bertanya pada bayi / anak.. Contoh : Adik haus, ya ? Gardi lapar, ya ?. Elta mau susu, lagi ? Ini gambar apa ? Ini boneka apa ? Ini warnanya apa ? Ini namanya siapa ?
  2. Komentar terhadap perasaan bayi / anak . Contoh : Kasihan, adik rewel kepanasan, ya ?. Nah sekarang dikipasin ya ? Ooo, kasihan, adik rewel gatal digigit nyamuk, ya ? Jatuh ya ? Sakit , ya ? Sini di obatin !
  3. Menyatakan perasaan ibu / ayah . Contoh : Aduh, mama kangen banget deh sama adik. Tadi mama di kantor ingat terus sama adik. Mmmh , mama sayang deh sama adik.
  4. Komentar keadaan bayi / anak.. Contoh : Aduh pipi Ade tembem ! Wow, Rama matanya besar banget ! Wah, kepala Gardi botak ! Ai, ai, Elta buang air besar lagi !
  5. Komentar perilaku bayi / anak Contoh : Wah, Rini sudah bisa duduk! Eeee, Tono sudah bisa berdiri ? Ai, ai, Ari sudah bisa duduk ! Wah, adik sudah bisa jalan !
  6. Bercerita tentang benda-benda di sekitar bayi / anak : Contoh : Lihat nih. Ini namanya bantal. Warnanya merah muda, ada gambar Winnie the Pooh. Adik tahu nggak Winni the Pooh ? belum tahu ? Winni The Pooh itu beruang yang lucu dan cerdik. Nanti kalau sudah gede pasti tahu deh. Yang ini namanya boneka Teletubies. Warnanya merah. Yang ini warnanya hijau, yang itu ungu. Nih, coba di peluk.
  7. Bercerita tentang kegiatan yang sedang dilakukan pada bayi / anak
    Contoh : Adik dimandiin dulu, ya ? Pakai air hangat, pakai sabun, biar bersih, biar kumannya hilang, biar kulitnya bagus sepeti bintang film. Sekarang dihandukin biar kering, tidak kedinginan. Sudaaaaah selesai. Sekarang pakai pampers, pakai baju, dibedakin dulu, biar kulitnya halus, wangi.. Nah, selesai. Enak, kan ? Asyik, kan ? Habis ini minum ASI terus tidur, ya ? Mama mau masak, ya ?
  8. Bercerita tentang kegiatan yang sedang dilakukan ibu : Contoh : Mama sekarang mau bikin susu buat adik sebentar , ya ? Nih, susunyal 3 takar , ditambah air 90 cc, terus dikocok-kocok. Kepanasan nggak ? Enggak kok. Nah, siap deh.

II. Dengarkan suara bayi / anak, berikan jawaban atau pujian

Ketika bayi / anak bersuara atau berbicara (walaupun tidak jelas), segera kita menoleh dan memandang ke arah bayi dan mendengarkan suara bayi / anak seolah-olah kita mengerti maksudnya.
Pandang matanya, tirukan suaranya, berikan jawaban atau pujian, seolah-olah bayi mengerti jawaban kita. Contoh : Ta-ta-ta-ta ? Ma-ma-ma-ma ? Kenapa, sayang ? Minta susu ? Mau poop ?

III. Bermain sambil berbicara

Ciluk – ba. Ibu mengucapkan ciluuuuuukk (muka ditutup bantal) beberapa detik kemudian bantal ditarik kesamping sambil ibu mengucapkan : baaaaaa !!.
Kapal terbang. Nih ada kapal terbang sedang terbang. Ngngngngngng. Ada musuh, kapal terbangnya menembak musuh … dor .. dor .. dor. Kapal terbangnya turun ke muka bayi terus keperutnya.
Boneka, dimainkan seolah-olah ia berbicara kepada bayi / anak
Menyebutkan nama mainan, nama makanan, anggota badan (tangan, kaki, jari-jari, mulut, mata, telinga, hidung dll.)

IV. Bernyanyi sambil bermain.

Pok-ambai-ambai, belalang kupu-kupu, tepok biar ramai, pagi-pagi minum …. cucu. Cecak-cecak didinding, diam-diam merayap, datang seekor lalat, …..hap ! lalu ditangkap. Dua mata saya, hidung saya satu, (sambil menunjuk ke mata, hidung dst.)
Putarkan kaset lagu anak-anak, ikut bernyanyi, sambil tepuk tangan, goyang kepala dll.

V. Membacakan cerita sambil menunjukkan gambar-gambar

Bacakan cerita singkat dari buku cerita anak yang bergambar. Tunjukkan gambar tokoh-tokoh yang ada dalam cerita (binatang, benda-benda, manusia). Tanyakan kembali apa nama benda tersebut, apa gunanya, siapa nama tokohTunjukkan gambar-gambar di dalam majalah.

VI. Menonton TV bersama anak sambil menyebutkan nama-nama benda, tokoh atau kejadian yang terlihat di TV
Itu mobil, yang itu kapal, itu sepeda. Itu kucing, di sebelahnya ada tikus dan anjing. Kucing melompat, tikus lari, anjing duduk.

VII. Banyak berbicara sepanjang jalan ketika bepergian (ke pertokoan, rumah keluarga dll) t tunjuklah benda-benda atau kejadian sambil menyebutkan dengan kata-kata berulang-ulang. Itu layang-layang sedang terbang, itu kakak sedang menyeberang jalan, itu burung sedang terbang, itu pohon ada bunganya, itu boneka pakai kacamata dll.

VIII. Bermain dengan anak lain yang lebih jelas dan lancar berbicaranya
Ajak bermain dengan anak lain (kakak, tetangga, sepupu) yang sudah lebih jelas berbicaranya, bermain bersama menggunakan boneka, kubus, balok, puzzle, Lego, gambar-gambar, buku bergambar dll.

PERHATIAN

  • Jangan memaksa anak berbicara.
  • Kalau bayi / anak bersuara (walaupun tidak jelas) berikan jawaban, seolah-olah kita mengerti ucapannya
  • Pujilah segera kalau dia berbicara benar.
  • Jangan menyalahkan anak kalau ia salah mengucapkannya
  • Kalau anak sudah bosan sebaiknya beralih ke kegiatan lain

Latihan – latihan ini selain merangsang berbicara sekaligus merangsang perkembangan emosi, sosial, dan perkembangan kognitif ( kecerdasan).

Sumber kepustakaan

Brooks JB ). Parenting Child With Special Needs. The Process of Parenting 3rd ed. 15 : 482-489. Mayfiel Publ. Coy., London (1991)
Coplan J. Language Delays. Dalam Parker, Zuckerman. Behavioral and Developmental Pediatrics. Litle Brown, Lomdon (1995)
Martin CA, Colbert KK.. Parenting Children With Special Needs. Parenting A Life Span perspective 11 : 270 – 272. McGraw-Hill, NewYork (1997)