Cerita kelahiran Kaka

Hari itu hari Sabtu, 14 Juli 2012, saat bunda ingin wudhu sholat subuh, keluar bercak lendir darah. Sebenarnya HPL (Hari Perkiraan Lahir) Kaka tanggal 22 Juli 2012, masih 8 hari lagi. Bahkan ayah dan bunda berencana menghadiri gatheringnya ayahASI di CIKAL, Cilandak. Sudah booked, dan ‘diancam’ adminnya tidak boleh cancel. Ayah juga ada jadwal test TOEFL pagi harinya. Bunda langsung kabarin mama dan ibu (ina dan mbah uti), remind lagi tentang tanda-tanda lahiran, bahkan ayah googling lagi.. Karena bunda belum merasa sakit atau semacam kontraksi, bunda tenang-tenang saja. Tapi ternyata ayah yang ga tenang. Ternyata hasi test TOEFLnya ga memuaskan, hehe, padahal bunda sudah meyakinkan ayah kalau bunda ga sakit, insyaAllah masih lama. Selain itu, mama, syifa (tante cipa) dan isan (om isan) juga sudah datang jagain bunda. Sebelum mama datang, ayah bunda sudah sempat cek ke dokter, ternyata masih bukaan dua, dan disarankan kembali ke rumah.

Sorenya, Bule Desi dan suami datang, beliau bidan, jadi sekalian konsultasi, hehe. Alhamdulillah dapat banyak pengetahuan lagi dari beliau. Sarannya, kalau sakitnya sudah rutin, berapa pun durasi jeda waktunya, datang saja ke dokter. Saat itu bunda belum merasakan sakit yang berarti, baru sakit nyeri sedikit seperti menstruasi kalau lagi nyeri. Malamnya, Tomy dan istri datang, kebetulan mereka juga sudah rencana datang mau silaturahim, mereka baru menikah beberapa minggu yang lalu.

Nah, setelah tamu pulang, bunda merasakan nyeri yang datang rutin tiap 10-15menit. Rasanya, sedikit lebih sakit dari nyeri haid. Akhirnya ayah dan bunda putuskan untuk ke dokter, jam21.30 kala itu. Kita bawa tas berisi perlengkapan bunda dan kaka, yang sudah bunda packing beberapa hari sebelumnya. Lucunya, kita malah lupa memastikan kondisi rumah siap untuk ditinggal. Karena setelah sebulan kemudian datang kembali ke rumah itu, ternyata masih ada nasi di ricecooker yang sudah menjadi jamur (bundaaaaaa…..>.<).

Sampai disana, bukaan dicek kembali, ternyata baru bukaan tiga. Berhubung kita sudah siap nginap, dan kita tidak tahu progress kedepannya akan secepat apa, akhirnya kita memutuskan untuk mulai menginap. Besok paginya, kita jalan pagi, sekitar setengah jam. Saat jalan itu terasa kontraksi yang mulai tidak bisa bunda tahan, bunda mulai mengeluarkan mimik kesakitan saat kontraksi datang, sambil memberhentikan langkah. Terasa ada rembesan yang mengalir, bunda khawatir itu ketuban. Saat pulang dicek lagi, katanya bukan ketuban, tetapi lendir vagina.

Siangnya dokter datang (selama ini masih bidan yang periksa). Kata dokter,  bunda belum bukaan 3, masih 2,5 lah.. kepala belum masuk panggul, belum turun. Bunda teringat komentar dokter saat terakhir kontrol usia 37w, Kaka belum turun, seharusnya sudah untuk usia segitu. Kalau bayi belum masuk panggul, susah untuk diusahakan normal. Bunda mulai deg-degan, walau optimis dengan takdir Allah pasti yang terbaik.

Dokter malah saranin bunda pulang lagi, jalan-jalan ke ITC, hehe… Karena hari itu panas, ayah bunda males banget jalan-jalan, akhirnya baru jalan sore jam5. Saat itu kontraksi makin terasa sakit, setiap 5menit jalan, nyeri hebat datang, bunda berhenti. Berusaha mengalihkan pikiran dengan melihat-lihat rumah (maklum, bunda naksir punya rumah sekitar beji). Saat jalan sore itu, bunda merasa rembesan air semakin rutin, bunda langsung menyimpulkan ini lendir vagina juga.

Menjelang magrib, kontraksi makin hebat, ingin rasanya meminta ayah untuk sholat di kamar saja temani bunda, tapi ayah harus sholat di mesjid. Bunda akhirnya minta foto bayi, untuk distraksi dari rasa sakit. Bunda bayangkan ada makhluk kecil yang lucu sebentar lagi akan hadir. Eh..ternyata ga gitu ngaruh, hehe.. mungkin karena fotonya ga selucu kamu Kaka, haiyaaah.. Sejak magrib itu, bunda ditemani murottal dari HP ayah.

Jadwal periksa berikutnya jam9 malam. Kaget bukan main saat bidan berkata ketubannya sudah berkurang sekali, pasti tadi pecah ketuban. Bunda ingat-ingat, mungkin rembesan yang bunda rasakan saat jalan sore tadi itu sebenarnya ketuban. Ditambah lagi setelah itu bunda buang air kecil. Mungkin terkuras saat itu. Alhasil, bunda langsung dibawa ke ruang bersalin dengan kursi roda. Ayah langsung mengabarkan mama papa.. *tobecontinued*

Seminggu sebelum lahiran

Seminggu sebelum lahiran

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s