Suka Duka Pumping di Kantor

Episode hidup kali ini rasanya perlu diabadikan. Kenapa? Karena kalau ditanya ibu-ibu yang lain, terutama new-mom, saya bisa jawab karena ada dokumentasinya. Maklum, emak emak suka lupa *nyengir*.

First Impression of Pumping

Hoalah..hari pertama saya sudah pumping. Karena Kaka belum bisa nyusu langsung di PD, belum jago, sampai akhirnya dia dehidrasi dan demam. Syukurnya, rumah bersalin tempat Kaka lahir proASI, jadi tidak ditawarkan sufor, tapi karena Kaka demam, dan belum bisa nyusu, ditawarkanlah cairan gula. Syukurnya, ayah Kaka yang sudah mengaku sebagai ayahASI (yes berhasil! padahal dia produk sufor lho), menolak dengan gigih (halaaah…) dan mendukung saya untuk segera pumping manual by hands (secara, belum bisa mompa pake alat, padahal sudah dibawa tuh alat..). Akhirnya mompa tangan, wadahnya apa? Yup, langsung ke cupfeeder, lalu disendoki sama ayah langsung ke mulut Kaka yang tidur melulu itu..

Alhamdulillah, sekitar 30ml pertama ASI saya yang kaya kolostrum berhasil disuapi ke mulut kecil Kaka. Perlahan, suhu tubuh Kaka mulai menurun ke suhu normal. Thanks to ayah.

Persiapan Sebelum Cuti Berakhir

Well, persiapan pumping di awal masuk pasca cuti 3bulan, hemm…awalnya pumping H-14 di rumah. Jadwalnya? Sesempatnya, kalau Kaka lagi bobo, setelah subuh, sebelum tidur, dll. Hasilnya..tuh kan saya sudah lupa..*hufh*. Kalau tidak salah sekitar 10-14botol saja (haaa…ketahuan malasnyaaaa..). Geleng-geleng deh kalau lihat di web foto isi kulkas para ibu yang penuh dengan ASIP.

Bagaimana dengan kulkas saya? Haiyaaaah…tidak pernah full. Padahal cuma kulkas 1 pintu. Bukannya tidak mau well prepared, tapi Kaka rencananya akan disekolahkan (istilah lebih halus lagi dari daycare) di dekat kantor, jalan kaki sekitar 10menit, naik motor 5menit. Jadi, kalau kenapa-kenapa tinggal tancappp… Selain karena, susah juga ternyata nyari waktu luang untuk pumping saat masih cuti, apalagi, cuma sendiri di rumah (berdua deng, sama si Kaka).

Sedikit memang, dibandingkan ibu-ibu lain. Lebih tragis lagi, saat trial daycare, ternyata Kaka ga suka ASIP yang disimpan lebih dari 5 hari. Konsul ke KL aimi (thanks to Mba Eldi), kemungkinan karena enzim lipase ASIP-ku banyak, jadi rasanya anyep kalau lama disimpan. Ada bayi yang nerima, ada yang nolak. Tapi penolakan itu lebih karena rasa, selera, bukan karena kandungan gizi atau kualitas ASIP. Oke..jadilah itu ASIP dibuang. Eh tapi ada yang lebih tragis lagi setelah ini.. What??

Yup, saat trial H-1, saya lupa bawa pompa. Alhasil, stock kosong dong.. ada sih ASIP yang ga dibuang, berharap Kaka akan lupa rasa dan berselera, tapi… akhirnya saya pumping manual (by hands), yang lama dan pegel (hosh!). Alhamdulillahnya, sang pemilik daycare baik hati meminjamkan pompanya yang jarang dipakai. Lumayan lah, dapat 2 botol.

Pumping @ Kantor

Pertama kali pumping di kantor, masih belum terbayang, gimana nanti sterilisasinya… Itu yang paling ribet sih.. Setelah googling dan tanya-tanya temen kantor (thanks to Mba Prima and Mba Ida), cukup dikocok-kocok air panas aja kalau mau digunakan lagi. Atau kalau tidak sempat, ya masukin kulkas aja pompanya, bisa dipakai untuk 8jam di hari yang sama. Alhamdulillah, kantor punya kulkas 2 pintu!

Tempat pumping di kantor bunda bisa di ruangan bunda sebenarnya. Cuma karena bunda berdua dengan dosen lain, bunda tidak bisa setiap saat menggunakan ruangan itu. Maklum beliau sibuk dan sering kedatangan tamu. Akhirnya sejak pertama,  bunda memilih ruang server untuk pumping (karena teman yang pumping-mom juga pumping disana). Tantangannya adalah…dingin rek! Namanya juga ruang server, puooolll banget dinginnyaaa.. Yaa berharap saja tidak mengurangi relaksasi saat pumping. Sambil senyum-senyum dalam hati, ada ga ya working mom yang pumping-nya di ruang server juga? Kadang, keyboardnya suka kepencet atau kesenggol.. Hehe.. Syukuri saja lah, lebih baik daripada harus di toilet. Tapi karena dinginnya itu, bunda akhirnya pumping di ruangan juga, kalau kondisi memungkinkan. Alhamdulillah dosen room-mate bunda ini kooperatif, bahkan suka cerita pengalaman membesarkan anak-anaknya dulu. Pernah juga bunda numpang di ruangan Mba Prima, karena dia kepala Lab, jadi ruangannya sendiri deh..

Hasil perah hari-hari pertama masih sedikit, 120ml dari double pumping. Mungkin karena bunda ga rajin perah pas cuti. Padahal dulu awal-awal Kaka lahir, hasil perahnya 120ml itu untuk single pumping. Sebenarnya ada tips untuk boosting ASIP menjelang masuk kerja pascacuti: saat menyusui, pumping PD yang satu lagi, atau, sebelum menyusui, pumping dulu PD-nya (supaya demandnya jadi lebih banyak).

Sehari 2-3x sesi pumping di kantor, dimulai jam10 atau 11, tiga jam berikut, dan sebelum pulang. Tapi semakin kesini semakin lebih sering 2x saja, hehe, bunda padahal tau urgensi disiplin jadwal pumping, tapi jadwal ngajar dan kesibukan yang tentatif membuat jadwal jadi tentatif juga. Apalagi tipikal saya, kalau udah serius sama satu pekerjaan, susah untuk di-interupt. Kalau jadwal molor, sesi kedua atau ketiga pumping biasa dilakukan di mobil, di perjalanan pulang menjemput Kaka di daycare. Syukurnya, kaca mobil sudah dilapisi dark film.

Akhirnya hasil pompa mulai meningkat, dari 120 ke 150, 16, 180, sampai pernah 240ml (double pumping). Alhamdulillah sehari bisa bawa 3-4botol untuk oleh-oleh Kaka. Naik turunnya hasil perah, bunda analisa selama ini lebih karena faktor daya hisap Kaka. Kalau Kaka lagi sedikit nyusu-nya, biasanya hasil perah juga menurun. Selain itu juga karena faktor fisik, kemudian baru psikis. Karena sejak menyusui, bunda menghindari pekerjaan tensi tinggi, waktu masih single, okelah dijabanin…hehe.. Walau bunda lagi agak stress dengan jadwal ngajar yang padat, belum lagi persiapan bahan ajarnya, hasil pumping bisa tetap banyak, dan juga sebaliknya, kalau lagi ga ada beban masalah (hayaaah…), pumping juga bisa menurun tuh..

Pengalaman paling sedih itu, ketika bunda mengorbankan jadwal pumping untuk masuk kelas ontime, eh malah mahasiswanya belum pada dateng. Uuuugghh…rasanya pengen bilang ‘hajat hidup anak saya, saya tunda demi kalian’, astagfirullah…langsung istighfar dan meluruskan lagi niat mengajar..

Memberikan ASIP untuk menunjang ASIX untuk Kaka, bukan sekedar untuk menjamin asupan terbaik untuk Kaka, tetapi juga karena Kaka mesti ASIX. Waktu Kaka 1,5 bulan, Kaka pernah dilanda kolik. Setelah melakukan diet menu tertentu atas anjuran dokter, koliknya hilang. Dan salah satu menunya adalah produk susu sapi. Jadi, kalau Kaka gagal ASIX, pilihannya tinggal susu soya, yang mana tingkat rekomendasinya masih di bawah susu sapi. Doakan ya semoga Kaka bisa lulus S1, S2 dan S3 ASIX, terus jadi profesor ASIX deh..:)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s